Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Belajar dari Musibah Banjir

0 122
Muslimin M.Pd *)

BANJIR menjadi tamu langgananan yang selalu datang pada musim hujan seperti ini. Hampir sebagian dari beberapa kota di Jawa Tengah selalu menjadi langganan banjir. Seperti Kudus, Pati, Purwodadi, Demak dan Jepara dan kota yang lainnya.

Meski antisipasi dari awal akan terjadinya banjir sudah direncanakan, namun terkadang manusia sering lalai dengan beberapa hal yang menyebabkan banjir. Hal yang sering dilakukan oleh masyarakat sehingga memicu adanya banjir adalah ketika musim kemarau tiba dengan gampangnya membuang sampah sembarangan atau membuang sampah di sungai.

Ini banyak terjadi terutama rumah yang dekat dengan sungai, maka dengan mudahnya membuang sampah dari rumah ke sungai. Sehingga saat musim kemarau sungai seperti berbentuk gunungan tempat membuang sampah.

Kedua, banyak lahan penghijauan di daerah lereng seperti lereng Gunung Muria beralih fungsi menjadi perkebunan, semisal tanaman jagung dan tanaman musiman yang lainnya. Sehingga lereng gunung yang seharusnya bisa untuk tempat menyerap air, ketika musim hujan datang air langsung terjun ke bawah tanpa ada resapan, sehingga menjadi salah satu penyebab banjir.

Ketiga, sekarang banyak bangunan baik jalan utama ataupun jalan gang menggunakan cor atau beton. Satu sisi bagus biar jalan kuat dan keras. Namun di sisi lain ketika hujan air tidak bisa  menyerap ke tanah. Sehingga betonisasi menjadi salah satu yang ikut andil terhadap terjadinya banjir.

 

Andil Besar Manusia

Sebenarnya bencana banjir datang tidak serta merta kehendak dari Sang Pencipta. Namun manusia juga mempunyai andil besar. Begitu juga manusia punya andil yang besar untuk mencegah datangnya banjir. Belajar dari berbagai masalah yang terjadi di atas maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

Pertama, sungai adalah salah satu faktor utama yang bisa menjadikan banjir atau tidak. Jika sungai tersumbat karena banyak sampah di sungai maka dipastikan akan terjadi banjir. Namun jika sungainya bersih tidak ada sampah dan aliran sungai lancar insyaallah akan meminimalisir terjadinya banjir.

Maka kesimpulannya sungai harus bersih dari berbagai sampah dan limbah rumah tangga. Kebersihan sungai menjadi tanggung jawab kita semua, baik itu sebagai masyarakat ataupun pemerintah. Ada regulasi yang jelas yang perlu ditaati bersama. Misalnya larangan membuang sampah ke sungai sampai ada denda dan hukuman.

Namun faktanya masih banyak orang dengan seenaknya membuang sampah tanpa merasa takut dengan sanksi yang akan menimpanya. Harusnya masyarakat sadar akan bahayanya membuang sampah sembarangan yang bisa menyebabkan banjir.

Seharusnya kebersihan sungai melibatkan banyak komponen dan menjadi tanggung jawab terutama desa yang di lalui sungai. Pemerintah seharusnya mengajak bersama-sama masyarakat untuk menjaga sungainya tetap bersih dan bebas dari sampah.

Semisal pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan memberikan penyuluhan sampai kepada ibu-ibu pengajian tingkat RT akan bahaya terjadinya banjir karena membuang sampah ke sungai. Karena ketika musim hujan bisa terjadi penyumbatan aliran sungai. Dan terjadilah banjir.

Dan kalau banjrnya parah mau tidak mau orang-orang harus mengungsi meninggalkan rumah. Dan banyak kerugian yang ditimbulkan akibat bencana banjir.  Sedangkan adanya timbunan sampah di sungai selain memperjelek pandangan, bagi kesehatan akan menimbulkan ancaman penyakit DB (Demam Berdarah) dan penyakit yang lainnya.

Timbunan sampah menjadi tempat yang menyenangkan bagi berkembang biaknya bakteri dan nyamuk. Penyuluhan Ini bisa menjadi agenda rutin tidak hanya ketika musim hujan tiba terus terjadi banjir tapi jauh-jauh hari sebelum itu penyuluhan terus diagendakan.

Di samping manfaat sungai yang bersih untuk meminimalkan terjadinya banjir, manfaat yang lain juga bisa dibuat wisata. Sungai yang bersih tentunya menjadi perhatian dan pemandangan tersendiri bagi masyarakat.

Hal ini tentunya bisa dibuat untuk wisata sekaligus bisa mendatangkan perekonomian. Misalnya dengan sungai yang bersih banyak orang yang ingin datang mengunjungi. Tinggal disiapkan perahu kecil atau permainan air. Sehingga orang yang datang dan mau naik perahu bisa dengan cara menyewa perahu.

Di sisi lain solusi dari adanya sampah bisa dipilah menjadi dua, yaitu sampah organik dan anorganik. Yang anorganik bisa dimanfaatkan untuk kerajinan rumah tangga.

Lagi-lagi pemerintah hadir lewat Balai Latihan Kerja (BLK) bagaimana memanfaatkan sampah menjadi bahan kerajinan yang bisa punya nilai ekonomi. Pemerintah lewat BLK hadir di masyarakat dengan memberikan pelatihan memanfaatkan sampah.

Sehingga pemerintah bisa memberikan solusi memanfaatkan sampah rumah tangga dengan dibuat kerajinan. Pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mengedukasi mereka sampai mereka bisa. Misalkan untuk kerajinan tas, souvenir, tempat tisu dan kerajinan yang lainnya.

Kedua, membuat sumur resapan (infiltration well) terlebih di daerah yang memang menjadi langganan banjir. Sumur resapan sangat penting untuk menyerap air manakala musim hujan datang. Karena saat ini banyak pembangunan dengan betonisasi baik jalan raya ataupun jalan gang-gang masuk dan hampir semua pembangunannya pakai beton, sehingga menyulitkan untuk menyerap air. Salah satu untuk mengurai masalah itu, adalah pembuatan sumur resapan.

Ketiga, melakukan penanaman kembali (reboisasi) daerah lereng gunung yang gundul karena beralih fungsi menjadi perkebunan jagung. Untuk sementara biar sama-sama untung antara petani dan pemerintah penanaman bisa dilakukan dengan tumpang sari.

Yaitu penanaman penghijauan di selingi dengan tanaman jagung. Agar ketika tiba panen jagung, yang sekitar 90 hari tanaman penghijuannya tetap tumbuh dan menjadi penyerap air dan mencegah terjadinya longsor dan banjir.

Keempat, normalisasi sungai secara berkala atau ter-schedule secara jelas. Selama ini banyak sungai yang terjadi pendangkalan, namun entah memang lepas dari perhatian dari pemerintah sehingga sungai itu dibiarkan saja.

Seharusnya ada tim satgas tersendiri yang khusus untuk memantau dan mengecek ke lapangan apakah sungai terjadi pendangkalan, penyumbatan atau mengalir dengan lancar. Dari situ akan kelihatan mana sungai yang terjadi pendangakalan dan tidak. Kalaupun  terjadi pendangkalan, bisa segera dilakukan tindakan normalisasi segera dan tidak perlu menunggu banjir.

Kalau komponen-komponen ini berjalan dengan baik dan masyarakat mempunyai kesadaran yang sama insyaallah akan meminimalisir terjadinya banjir yang menjadi tamu yang selalu datang langganan setiap tahun. (*)

 

*) Penulis adalah Dosen STIBI Syekh  Jangkung (Sekolah Tinggi Ilmu Budaya Islam) Pati dan koordinator Komunitas Kampung English Temulus

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.