Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

DPRD Pati Panggil Para Pihak Atas Dugaan Penolakan Pasien di RSUD Soewondo

0 2.602

MURIANEWS, Pati – Viralnya video yang beredar di media sosial terkait seseorang yang marah-marah di RSUD Soewondo karena rumah sakit itu diduga menolak pasien BPJS Kesehatan, langsung disikapi DPRD Pati. Senin (20/1/2020) para pihak terkait, dipanggil untuk dimintai keterangan terkait hal ini.

Dewan juga mengundang pihak Rumah Sakit Fastabiq, BPJS Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pati, Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati untuk mencerahkan masalah tersebut.

Ketua DPRD Pati Ali Badruddin mengatakan, dari penjelasan pihak RSUD Soewondo, pasien yang berobat itu setelah dilakukan diagnosa, ternyata tidak memenuhi syarat untuk rawat inap. Maka, dokter pun memberikan beberap obat dan menyarankan agar melakukan rawat jalan.

Sementara dari RS Fastabiq, hasil diagnosanya justru beranggapan jika pasien tersebut perlu adanya perawatan inap. Dalam kasus ini, pihaknya pun meminta IDI untuk memeriksa diagnosa dari dua rumah sakit itu.

“Tapi ini sebagai pengalaman yang bisa sebagai motivasi rumah sakit ketika melayani masyarakat harus sebaik mungkin. Kesehatan itu sangat penting,” katanya.

Ia menyebut, memang ada tahapan dan mekanisme pasien harus dirawat inap atau tidak. Sehingga pihaknya berharap hal ini jangan sampai menimbulkan persaingan yang kurang sehat.

Sementara Kepala DKK Pati Edi Siswanto merencanakan akan membahas masalah ini secara intenal antara DKK, RSUD Soewondo, RS Fastabiq, BPJS , dan IDI. Itu untuk mengetahui perbedaan hasil diagnosa kedua RS tersebut.

Dia juga mengatakan, terkait kedaruratan itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009. Yakni semua diagnosa itu ada ukurannya, kecuali sakit perut dan sakit kepala. Bahkan diagnosa itu dikatakan sebagai hasil pemeriksaan personal.

“Mungkin oleh dokter satu hasil diagnosa itu bisa rawat inap, dan dokter kedua mengatakan tidak perlu rawat inap. Itu penilaian personal. Jadi sulit diatur secara khusus,” terangnya.

Dirinya berharap, dengan mempertemuan para pihak ini, nantinya akan ditemukan titik terang sehingga kasus tersebut tidak berlarut-larut.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.