Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Warga Plukaran Khawatir Ada Macan Tutul Lain Turun ke Perkampungan

MURIANEWS, Pati – Ditemukannya bangkai macan tutul Jawa di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati, beberapa waktu lalu ternyata menjadi kekhawatiran tersendiri bagi warga setempat. Mereka takut jika ada macan lain yang lebih besar turun ke wilayah permukiman.

Apalagi kalau sampai macan itu mengganggu aktivitas warga dan mengancam hewan ternak mereka.

Hal itu diakui Kepala Desa Plukaran, Mulyono. Bahkan dia juga menduga bahwa macan tutul itu adalah hasil penangkaran.

“Itu (macan tutul) sengaja ditanduri (dilepas). Tujuannya dilepas di hutan itu untuk apa, kami masih belum tahu hingga sekarang,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Sebelum ditemukan bangkai anakan macan berumur 1,5 tahun oleh pencari rumput, menurutnya, warga sering melihat macan di hutan. Namun sejauh ini belum ada konfrontasi antara penduduk dengan macan tutul.

“Memang cerita orang-orang sering bertemu macan hidup. Banyak (jumlah macan tutul). Itu sengaja (ditaruh) sana, ini untuk apa?. Bukannya malah membuat warga dalam bahaya. Tujuannya ditaruh itu apa?,” katanya.

Mereka pun tidak mengetahui kenapa macan tutul itu bisa muncul di dekat perkampungan. Dengan adanya anakan macan tersebut, pihaknya menduga masih ada induk atau macan lain yang lebih besar.

Baca: Macan Tutul Ditemukan Mati di Plukaran Pati

Terpisah, Edi salah penggarap lahan di wilayah Pegunungan Muria, tepatnya di Gununb Kelir yang berbatasan dengan Desa Tempur, Jepara mengaku memang pernah melihat ada banyak hewan yang dilepaskan di sekitar Pegunungan Muria itu.

Bahkan menuritnya, di kawasan tersebut juga dipasang kamera pemantau. Sesekali waktu dilakukan pemantauan menggunakan drone.

“Banyak hewan yang dilepaskan, termasuk ular kobra, macan, phiton dan hewan liar lainnya. Waktunya belum lama ini, baru 2019 kemarin,” katanya.

Dia mengetahui itu lantaran pada saat pelepasan hewan tersebut, dirinya berada di lahan garapan yang tidak begitu jauh. Bahkan diakui setiap tiga bulan sekali, pasti ada orang yang mengecek kondisi hewan yang dilepaskan itu.

“Kalau setahu saya di wilayah Gunung Kelir, tapi siapa yang melepaskan, saya kurang tahu,” imbuhnya.

Dia mengakui, memang di Gunung Kelir yang bagian puncak, sudah tidak lagi digarap oleh masyarakat. Sehingga kondisi lahannya makin rimbun.

“Mungkin karena itu, banyak hewan yang dilepaskan di wilayah sana untuk dilindungi. Mungkin juga untuk menjaga wilayah sana,” pungkasnya.

Sebelumnya warga Plukaran menemukan bangkai macan tutul di belakang rumah warga pada Minggu (12/1/2020). Warga sempat menguburkan bangkai itu, dan pihak BKSDA melalukan penggalian untuk memeriksa bangkai anakan macan tersebut.

Kepala BKSDA Jateng Darmanto kepada MURIANEWS mengatakan, usia macan tutul yang ditemukan di Dukuh, Prigi, Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Pati itu usianya 1,5 tahun. Jenis kelaminnya sendiri adalah jantan.

Kini bangkai macan tutul Jawa (Panthera Pardus Melas) itu tengah diperiksa di Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...