Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kasus Bunuh Diri di Grobogan Bisa Diminimalkan, Begini Caranya

MURIANEWS, Grobogan – Tingginya kasus bunuh diri yang terjadi di Grobogan ternyata bisa diminimalkan. Meski demikian, untuk menurunkan angka bunuh diri itu butuh dukungan dari banyak pihak. Hal itu disampaikan dosen Undip Annastasia Ediati dalam acara diseminasi hasil penelitian kasus bunuh diri di Grobogan yang digelar di gedung Riptaloka, Kamis (9/1/2020).

“Untuk menekan bunuh diri ini, dibutuhkan peran dari pemerintah melalui beberapa dinas terkait. Antara lain, pemda, dinas kesehatan, dinas sosial. Kemudian, butuh juga dukungan dari media serta masyarakat,” katanya.

Ia menyatakan, dari penelitian yang dilakukan pada tahun 2019, ada 139 kasus bunuh diri di Grobogan yang tersebar di 19 kecamatan dalam kurun waktu 2015-2019. Rinciannya, tahun 2015 ada 26 kasus, 2016 (19), 2017 (34), 2018 (27) dan 2019 (33).

Dari penelitian itu diketahui jika pelaku bunuh diri lebih banyak dilakukan laki-laki (95 orang). Sedangkan pelaku perempuan 44 orang.

Selanjutnya, kasus bunuh diri paling banyak dilakukan pelaku yang usianya 45 tahun ke atas (87 orang). Urutan berikutnya adalah orang usia 19-44 tahun (45 orang) dan sebanyak sembilan kasus dilakukan orang berusia dibawah 19 tahun.

“Dari cara bunuh diri paling banyak dengan menggantung. Lainnya, ada yang minum racun, tabrak kereta dan nyebur sumur. Pelaku bunuh diri latar belakang pekerjaannya didominasi petani,” sambungnya.

Ediati melanjutkan, ada beberapa hal yang menyebabkan kasus bunuh diri tersebut. Yakni, sakit kronik (55 kasus), depresi (28), dan ekonomi (25). Lainnya, disebabkan gangguan jiwa, masalah keluarga dan tidak diketahui alasannya.

“Dari data ini diketahui, sakit kronis merupakan faktor risiko bunuh diri paling banyak. Dengan demikian, penderita dan keluarga perlu pendampingan dan edukasi tentang sakit kronis serta layanan kesehatan yang lebih baik,” katanya.

Selain bunuh diri, ada beberapa hasil penelitian lain yang dipaparkan dalam diseminasi yang dibuka Sekretaris Daerah Moh Sumarsono tersebut. Yakni, masalah stunting, strategi penanggulangan kemiskinan dan optimalisasi air baku untuk air minum.

Kepala Bappeda Anang Armunanto menambahkan, pada tahun 2019, pihaknya memang melibatkan beberapa peneliti untuk melakukan serangkan penelitian. Setelah penelitian dilakukan maka perlu dilakukan diseminasi atau penyampaian pada berbagai pihak terkait guna dilakukan penanganan bersama-sama.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...