Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Siswi SMA 1 Gemolong Diteror Teman Sekolah Gara-Gara Tak Pakai Jilbab

0 5.848

MURIANEWS, Sragen – Seorang siswi SMA 1 Gemolong, Sragen merasa diteror oleh teman sekolahnya gara-gara tak mengenakan jilbab. Teror dan intimadasi yang terus datang melalui WhatsApp (WA) itu diduga dilakukan oleh oknum pengurus Kerohanian Islam (Rohis) sekolah setempat.

Peristiwa ini menimpa salah satu siswi kelas X asal Kecamatan Miri, Sragen berinisial Z. Oknum pengurus Rohis itu terus menerus mengirimi pesan yang bernada setengah pemaksaan untuk mengenakan jilbab.

Bahkan dalam berondongan pesan itu, oknum Rohis itu juga menyalahkan dan menghujat orang tua Z, karena dianggap tak bisa mendidik anak.

Dalam pesan lain, oknum pengurus Rohis itu mengingatkan Z supaya berhijab karena hal itu adalah kewajiban.

“Kandanono, hijab bukanlah pilihan yang dengannya dia bisa memilih, tapi kuwi kewajiban. Siap ora siap, kudu berhijab.” Isi pesan tersebut.

Dengan nada ancaman, oknum pengurus Rohis itu juga meminta Z tidak membawa masalah itu ke pimpinan sekolah.

“INGAT, jangan sekali-kali bawa masalah ini ke sekolah dan sampai melapor ke kesiswaan karena ini masalah agama.” isi pesan itu.

Sang orang tua pun resah dan mengadukan masalah ini ke pihak sekolah. Apalagi menurutnya, teror itu sudah cukup membahayakan anaknya.

“Itu jelas ancaman. Apalagi kata “ingat” ditulis dengan huruf kapital. Masalah ini kan ada di sekolah, lalu mengapa tidak boleh dibawa ke sekolah,” kata AP, orang tua Z dikutip dari Solopos.com pada Kamis (9/1/2020).

Ia menguraikan karena resah, putrinya sempat memblok WA spam dari Rohis yang mengirim pesan itu. Namun karena makin berlebihan, ia pun tak bisa membiarkan.

“Sempat saya ajak ketemu untuk ngobrol. Kalau saya ada salah atau dikritik, saya welcome kok. Tapi dijaeab gak mau ketemu, malah WA-nya nggo opo ketemu karo wong tuwo ora mudeng dalil agama tiwasan debat kusir. Akhirnya saya minta anak saya scrennshoot semua pesan itu dan saya bawa ke sekolah,” terangnya.

Baca: 20 SMA di Solo Raya Disiapkan Jadi Pilot Project Sekolah Toleran

Kepada wartawan AP menyebut jika dirinya ditemui Kepala Sekolah Suparno, pengurus Rohis, Kepala Disdikbud Sragen dan Kepala Cabang Disdikbud Jateng Wilayah VI Eris Yunianto.

Kasus ini juga terdengar oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Ganjar menyebut, mendapat banyak yang bertanya mengenai masalah teror ini. Ia pun menyatakan telah memerintahkan Dinas Pendidikan untuk mengonfirmasi masalah ini.

” Mari kita hormati dan saling belajar dengan baik, tidak memaksa apalagi meneror. Saya akan ajak bicara siswa, guru dan ortu,” kata Ganjar dalam akun Facebooknya.

Sementara itu, Kepala Cabang Disdikbud Wilayah Jateng VI Eris Yunianto mengaku sudah menerima laporan itu. Ia menyatakan juga hadir di pertemuan klarifikasi di SMAN 1 Gemolong dengan orangtua siswa, Rohis dan pihak sekolah.

Ia menegaskan secara prinsip, tidak dibenarkan memaksakan seseorang untuk ikut memakai jilbab di sekolah. Menurutnya, hal itu adalah hak asasi yang dilindungi.

“Siapapun punya hak yang sama. Setiap anak punya hak yang sama. Untuk satu hal itu (keyakinan) kan pilihan hidup masing-masing. Toleransi itu nomor satu yang harus dikedepankan,” terangnya dilansir dari Joglosemarnews.com.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha
Sumber: Solopos.com, Joglosemarnews.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.