Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Hamil, Empat Tenaga Kontrak Disdukcapil Kudus Tak Diperpanjang

MURIANEWS, Kudus – Empat tenaga kontrak di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) yang tengah hamil dipastikan tak diperpanjang. Alasannya kondisi para pekerja saat hamil dianggap bisa mengganggu kinerja pelayanan saat mengajukan cuti hamil.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengakui telah menerima laporan tentang tak diperpanjangnya tenaga kontrak tersebut. Hanya, ia memastikan tak ada prosedur yang dilanggar dalam perpanjangan tersebut. Pihaknya bahkan telah memanggil kepala dinas yang bersangkutan untuk mengkalifikasi keputusan tersebut supaya tidak merugikan tenaga kontrak.

“Kami selalu tekankan tidak ada pengurangan. Hanya saja, tetap ada evaluasi untuk pekerja yang kinerjanya tidak maksimal,” jelasnya , Jumat (3/1/2020) pagi.

Pihaknya juga memastikan sistem maupun teknis evaluasi pada tenaga kontrak atau outsourcing  diserahkan pada masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pasalnya penganggaran tenaga outsourcing dianggarkan di masing-masing OPD.

“Ada kehawatiran nanti pas cuti akan mengganggu pelayanan, ini juga demi kebaikan dan kesehatan mereka,” terangnya.

Selain itu, pemutusan tersebut juga setelah kontrak habis. Artinya tidak ada tanggungan kontrak yang dilanggar oleh pihak dinas. Terlebih lagi, berdasarkan data lapangan di Disdukcapil ada 17 tenaga kontrak yang tak diperpanjang. Hanya, empat di antaranya sedang hamil.

Sementara itu, salah satu tenaga kontrak yang diputus kerjanya, PT (25) menjelaskan jika pihaknya sebenarnya telah mengikuti tes tertulis yang digelar pihak Disdukcapil Kabupaten Kudus. Begitu juga dengan tiga tenaga kontrak lain yang juga tengah hamil.

“Materi tesnya adalah soal KTP, KK, KIA dan akte kelahiran maupun kematian dan sebagainya terkait administrasi kependudukan. Saya sudah tiga tahun di sana, saya yakin menguasai,” katanya.

Hanya, ia merasa janggal dengan hasil tes. Itu lantaran semua tenaga outsorching yang hamil tidak tidak diluluskan semua. Ia juga mengatakan jika hasil seleksi seolah telah diseting. Di mana keempat pekerja hamil berada di peringkat yang hampir berurutan.

“Itu kami berempat berurutan tidak lolos, seperti ada manipulasi. Sedangkan yang baru malah lolos,” akunya.

Ia pun menyangsikan jika memang alasan kehamilan dinilai menganggu kinerja dan harus dirumahkan, kenapa pada dinas lain tidak diberlakukan. “Di dinas lain juga banyak yang hamil tetapi tidak diputus kontrak. Kami masuk menjadi tenaga outsourcing juga tidak gratis, ada nominal puluhan juta,” akunya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...