Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Jangan Anggap Remeh Anemia Pada Ibu Hamil

0 228
Amelia Sherly Otaverina*)

ANEMIA disebabkan karena kekurangan kadar hemoglobin (Hb). Anemia dapat memengaruhi tumbuh kembang pada anak, tak hanya itu remaja perempuan pengidap  anemia dapat mengakibatkan kemampuan tubuh menurun serta menurunnya fokus dalam belajar, sedangkan pada orang dewasa anemia mengakibatkan kesehatan tubuh ikut menurun.

Tak terkecuali pada masa kehamilan, menurut Risnawati, 2015 anemia pada ibu hamil disebabkan oleh tingginya tingkat defisiensi zat besi serta rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya postpartum pada ibu hamil. Oleh karenanya anemia pada masa kehamilan sangat berisiko (Berat Badan Lahir Rendah) BBLR hingga puncaknya berakibat fatal yaitu kematian  ibu dan bayi.

Wanita hamil sangat berisiko mengalami anemia, namun kebanyakan dari mereka masih menganggap bahwa anemia merupakan hal yang wajar saat masa kehamilan. Hal ini diperkuat dengan adanya  hasil penelitian Riskesdas pada tahun 2018, bahwa dapat dilihat perbandingannya pada tahun 2013 dan 2018. Di tahun 2013, anemia yang dialami oleh wanita pada masa kehamilan mencapai angka 37,1% dan di tahun 2018 mencapai 48,9%.

Dalam kurun waktu lima tahun selisih anemia pada wanita hamil mencapai 11,8%. Hal ini membuktikan bahwa wanita hamil masih belum memahami risiko anemia saat kehamilan.

Risiko anemia pada saat kehamilan bukan hanya dialami oleh bayi saat lahir, tapi juga pada ibu. Menurut Rizky H, (2017) pada masa kehamilan anemina menyebabkan kurangnya oksigen dalam darah, sehingga oksigen dalam uterus berkurang yang menyebabkan otot-otot pada uterus  tidak lagi dapat berkontraksi dengan adekuat sehingga timbul pendarahan postpartum. Oleh karena itu saat masa kehamilan sangat dianjurkan untuk terus melakukan pengecekan secara rutin agar ibu tidak mengalami anemia.

Perdarahan postpartum ialah kondisi di mana ibu mengalami perdarahan yang berlebih sesaat setelah melahirkan. Pada saat inilah risiko terbesar kematian ibu. Menurut Purba (2018), anemia pada masa kehamilan berdampak buruk bagi ibu dan janin, dampaknya dapat berupa abortus, persalinan kurang bulan atau biasa disebut premature, dan ketuban pecah dini (KPD). Sedangkan pada proses melahirkan dapat menghambat proses persalinan hingga memakan waktu lebih dari 24 jam, mengganggu pada saat mengejan dan membuat plaseinta ikut keluar dalam rahim memanjang, sehingga mengakibatkan terjadinya retensi plasenta. Oleh karena itu pada saat ibu dalam masa kehamilan harus benar-benar faham tentang risiko-risiko yang akan dihadapi selama masa kehamilan serta mengetahui faktor pemicu terjadinya pendarahan postpartum pasca melahirkan agar terhindar dari resiko tinggi yang akan terjadi.

Banyak cara dalam menangani anemia pada masa kehamilan untuk mencegah terjadinya postpartum, seperti mengonsumsi suplemen asam folat dan zat besi, mengonsumsi makanan yang tinggi kandungan zat besi, berupa daging-dagingan, telur, dan gandum. Kemudian memakan makanan tinggi asam folat, berupa kacang-kacangan, jeruk, dan sayur-sayuran berwarna hijau; mengonsumsi tambahan obat dan makanan tinggi vitamin C, seperti buah dan sayur yang segar.

Menurut Breymann (2006) dalam pengobatan postpartum yang disebabkan oleh anemia saat kehamilan bergantung pada tingkat keparahannya. Salah satu pengobatan alternatif anemia yaitu pemberian terapi parental dari sukrosa besi.

Sukrosa besi berfungsi dalam menekankan anemia postpartum. Dalam pemberian dosisnya bergantung pada peningkatan maksimum dengan total dosis 800mg. Sebelum terjadi anemia dalam masa kehamilan, lebih baik dicegah dengan cara sering memakan makanan yang tinggi akan zat besi dan menyeimbangkan kandungan gizi lainnya. (*)

 

*) Mahasiswa Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.