Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kaleidoskop 2019

Teror di Jateng, Serangan Tawon Ndas Sampai Bom Bunuh Diri di Sukoharjo

0 190

MURIANEWS.com, Semarang – Beragam aksi teror melanda wilayah Jawa Tengah selama tahun 2019. Teror tak hanya datang dari para pelaku teroris atau pihak yang menginginkan kerusuhan, tetapi juga datang dari binatang berbisa.

Aksi teror ini membuat warga geram maupun takut. Aparat keamanan pun harus kerja ekstra untuk melakukan antisipasi dan menenangkan massa.

Tim khusus pun diterjunkan, tak hanya untuk menanggulangi teror dari pelaku kejahatan. Tapi juga teror dari ular maupun tawon Ndas.

 

 

Petugas saat mengevakuasi sarang tawon yang ada di rumah warga di Desa Jurang Kecamatan Gebog, Kudus. (MURIANEWS.com/Dian Utoro Aji)

 

Ramai-Ramai OTT Tawon Ndas

Menjelang akhir tahun 2019, wilayah Jawa Tengah digegerkan dengan maraknya teror tawon Vespa Affinis atau sering disebut tawon ndas. Tawon ini menyerang perkampungan warga, mulai dari Pemalang, Klaten, hingga ke Kudus dan daerah-daerah lainnya.

Banyak korban yang terkena sengatan tawon ini, hingga ada yang meregang nyawa. Sejumah daerah pun membentuk tim operasi tangkap tawon (OTT) yang terdiri dari unsur pemadam kebakaran.

Bahkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga memerintahkan setiap daerah di Jateng melakukan patroli tawon. Pasalnya, serangan tawon ini tak hany terjadi pada tahun ini saja.

Kabupaten yang paling parah terkena serangan tawon endhas adalah Klaten. Tercatat, sejak 2016, laporan sarang tawon endhas sebanyak 667 kasus.

Dari jumlah itu, 10 orang tewas akibat sengatan tawon itu. Sementara di Pemalang, telah 9 korban meninggal sejak 2018.

Selain di Klaten dan Pemalang, tawon endhas juga meresahkan warga Kudus, Sukoharjo dan Boyolali.

Dalam satu tahun ini di Kudus terdapat belasan kasus. Sementara di Sukoharjo sebanyak 400 sarang telah dimusnahkan dalam satu tahun ini.

“Tindakan paling gampang sekarang harus ada patroli. Dan saya coba kontak dengan bupati agar ada patroli, tawon-tawon ini ada di mana dan apa yang terjadi,” kata Ganjar, Kamis (28/11/2019).

Selama November dan memasuki Desember 2019, tim OTT dari Damkar langsung kebanjiran permintaan untuk mengevakuasi tawon ndas. Pasalnya, tawon ini kerap bersarang di rumah-rumah warga dan membahayakan.

 

Petugas kebersihan di Balai Kota Solo menunjukkan ular sanca yang ditangkapnya. (Istimewa)

 

Teror Kobra di Klaten dan Sanca di Balai Kota Solo

Tak hanya tawon ndas, binatang melata seperti ular kobra dan sanca juga meneror. Daerah yang paling banyak terkena teror ini ada di kawasan Solo Raya.

Di Klaten sebanyak 32 ular kobra, yang terdiri dari indukan dan anak-anaknya ditemukan di sebuah bengkel sepeda motor Jalan Cawas-Pedan, Dusun Jembangan, Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten. Puluhan ular itu ditemukan dalam waktu dua pekan di bulan Desember.

“36 ekor ular itu ditemukan sejak dua pekan lalu sampai Selasa (17/12). Lokasi penemuan ada yang di depan bengkel, samping bengkel, dan rumah kosong belakang bengkel,”kata Suryoko (38), pemilik bengkel.

Selain itu, Balai Kota Solo juga diketahui menjadi tempat bersarang ular sanca jenis batik. Hal ini seiring dengan penemuan 20 anakan ular sanca batik, dalam tiga bulan terakhir di kawasan tersebut.

Penemuan terakhir terjadi pada Kamis (12/12/2019). Anakan ular sanca dua sentimeter dan panjang satu meter itu ditemukan tengah melingkar di bawah pohon di area taman Balai Kota Solo.

Untung Sriyono atau Suyut, petugas kebersihan di kompleks kantor setempat, yang menangkap dan mengamankan ular itu. Ia menyebut, selama dua hingga tiga bulan terakhir telah menangkap sekitar 20-an ular dengan jenis yang sama di kawasan tersebut.

”Semua dirawat oleh petugas (ASN setempat). Enggak ada yang dibunuh. Saya menduga ular ini berasal dari saluran air yang muaranya di Kali Pepe,” kata Untung, Jumat (13/12/2019).

Diperkirakan masih banyak lagi anakan ular sanca batik yang berkeliaran di kawasan Balai Kota Solo. Perkiraan ini muncul dari kebiasaan ular sanca yang bisa menghasilkan puluhan butir sekali bertelur.

Setiap indukan ular sanca saat baru kali pertama bertelur, akan menghasilkan 20-25 butir. Sedangkan periode bertelur selanjutnya saat sudah dewasa mampu menghasilkan 40 butir.

Sehingga jika indukan yang bertelur di kawasan balai kota sudah dewasa, maka kemungkinan masih cukup banyak anakan sanca yang berkeliaran kawasan itu.

Masa kawin ular sudah berlangsung enam bulan lalu. Yang disusul masa hamil dan pengeraman masing-masing selama tiga bulan. Sehingga, saat ini anakan ular diperkirakan sudah berumur antara 1-3 bulan.

 

Razia yang digelar untuk mempersempit ruang gerak pelaku teror bakar mobil. (Humas Polda Jateng)

 

Puluhan Motor dan Mobil Dibakar Orang Tak Dikenal

Selain teror dari binatang, aksi teror dari para pelaku kejahatan juga sempat membuat heboh Jateng pada awal-awal tahun 2019. Sekitar Januari hingga Februari 2019, di sejumlah daerah di Jateng mencuat kasus teror bakar mobil dan motor.

Tercatat sudah ada 17 kasus di Kota Semarang, 8 kasus di Kendal, dan satu kasus di Kabupaten Semarang dan Grobogan. Sudah ada 26 lebih kendaraan yang dibakar pelaku misterius.

Polda Jateng bahkan menerjunkan tim khusus untuk memburu pelaku teror pembakaran mobil ini. Irjen Pol Condro Kirono yang waktu itu menjabat sebagai Kapolda Jateng mengerahkan 1.200 personel dari berbagai satuan di Jateng untuk memburu pelaku.

Penambahan penjagaan, kata Condro, juga dilakukan dengan mengerahkan 2/3 kekuatan di kepolisian untuk tugas pada malam hari. Mereka ditugaskan beroperasi pukul 24.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB.

“Selain upaya kami untuk terus mengejar pelaku, upaya-upaya pencegahan sudah kami lakukan dengan penguatan personel. Kami berharap, kejadian semacam ini tidak terjadi lagi,” terangnya.

Tak hanya pihak kepolisian, TNI dari Kodam IV/Diponegoro juga mengerahkan personelnya untuk membantu pengungkapan. Termasuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang memerintahkan bupati/wali kota untuk meningkatkan pengamanan.

Ganjar menyebut, modus yang digunakan pelaku di beberapa daerah juga hampir sama. Ini yang menguatkan asumsinya tentang adanya aktor intelektual di balik aksi teror ini.

“Saya menduga ada aktor profesional di balik aksi teror yang marak terjadi akhir-akhir ini. Tidak hanya memberi rasa takut di tengah masyarakat. Namun juga memberikan image bahwa pemerintah tidak bisa menangani,” ujarnya.

 

Terduga pelaku bom bunuh diri Sukoharjo dibawa ke RS Bhayangkara Semarang. (Foto: Antara/Wisnu Adhi)

 

Bom Bunuh Diri Simpatisan ISIS Jelang Lebaran

Dua hari sebelum Lebaran, atau Senin Senin (3/6/2019) malam, aksi bom bunuh diri terjadi di pos pantau Pospam 1 Tugu Kartosuro, Sukoharjo. Tak ada korban jiwa, hanya pelaku bom bunuh diri yang mengalami luka sangat parah hingga dirujuk ke RS Bhayangkara Semarang.

Polisi menyebut, terduga pelaku bernama Rofik Asharudin (22) warga Kartasura, Sukoharjo.

Akibat ledakan itu, Rofik langsung tergeletak di depan pos polisi dengan luka yang sangat parah. Meski demikian nyawa Rofik masih selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.

Kasus ini juga menjadi perhatian serius lantaran terjadi jelang Lebaran. Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Daniel juga langsung turun ke lokasi. Ia menyebut jika kasus bom bunuh diri ini merupakan serangan terhadap kepolisian.

“Ini serangan kepada petugas polisi dan ini bukan yang pertama. Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat agar tidak khawatir, tetap lanjutkan aktivitasnya. Kami tetap menjamin kelancaran pemudik,” katanya, Selasa (4/6/2019) subuh.

Pelaku diduga kuat mendapat pengaruh radikal dari kelompok ISIS dan telah dibaiat pada akhir 2018 lalu. Kapolda menjelaskan pelaku aktif berkomunikasi dengan pimpinan ISIS di Suriah dengan menggunakan media sosial. Sebagai pelaku tunggal yang tidak masuk dalam jaringan, kata dia, pelaku dibaiat sendiri dan belajar membuat bom sendiri.

Ia menuturkan Rofik yang sudah merencanakan aksinya sejak 2018 lalu itu memang mengincar polisi. “Sudah direncanakan sejak 2018, atas perintah imamnya,” terangnya.

Kedua orang tua pelaku juga sempat diajak ikut dibaiat sebagai pelaku teror bom namun menolak. Menurut dia, kedua orangtua pelaku mengetahui aktivitas yang dilakukannya dan bahkan sempat memperingatkannya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Ucapan Idul Fitri 1441 H Banner Bawah PC

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.