Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kaleidoskop 2019

Aksi Nyeleneh Bikin Geger, Tapa Pendem hingga Nenek-Nenek Kawini Bocah Ingusan

MURIANEWS.com, Pati – Sepanjang tahun 2019, ada beragam peristiwa dan kejadian aneh dan menggelitik di sekitar Pegunungan Muria. Mulai dari aksi-aksi berbau magis, hingga tindakan beberapa orang yang terbilang konyol.

Peristiwa-peristiwa itu sempat menyita perhatian publik, dan geger di media sosial. Apa saja aksi-aksi nyeleh sepanjang tahun 2019? Berikut MURIANEWS.com merangkumnya:

 

Pihak keluarga membongkar liang makam yanh digunakan Mbah Pani untuk tapa pendem. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Tapa Pendem Mbah Pani

Mbah Supani, kakek berusia 63 tahun warga warga Desa Bendar RT 03 RW 01 Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, sempat bikin geger. Netizen juga riuh membicarakan aksinya yang tergolong nyeleneh dan langka.

Mbah Pani panggilan akrabnya, menjadi terkenal gegara aksinya melakukan tapa pendhem. Ritual ini di Jawa juga sering disebut dengan ngeluwang.

Ritual semedi ini sesuai namanya, layaknya seperti mengubur jenazah. Tubuh Mbah Pani dikafani dan dimasukkan ke dalam liang lahat. Selama lima hari, Mbah Pani dipendam. Liang lahar hanya diberi lubang untuk mengalirkan oksigen dan tali untuk mengecek kondisi Mbah Pani

Tubuh Mbah Pani mulai dipendam sejak Senin (16/9/2019) malam dan dibangkitkan lagi pada Jumat (20/9/2019) sore. Selama menjalani tapa ini, Mbah Pani tak makan atau minum.

Mbah Pani mengatakan, ritual ini akan dilakukannya sebagai yang terakhir. Sebelumnya ia mengaku sudah melakukan hal yang sama sebanyak sembilan kali dengan durasi waktu tiga hari dikubur.

“Karena ini yang terakhir, nanti tidak lagi tiga hari, tapi lima hari,” katanya saat ditemui, Senin (16/9/2019).

Meski prosesnya seperti menguburkan mayat, Mbah Pani berpesan agar tak mau diazani, karena ia belum meninggal.

Ada beberapa keanehan selama Mbah Pani dikubur. Air yang mengalir dalam liang lahat yang awalnya asin, tiba-tiba menjadi tawar.

Sri Khumaidah, istri Mbah Pani menyebut, ketika pertama kali dikuras, air tanah yang ke luar tersebut berasa asin layaknya air laut. Namun, beberapa saat setelah liang pertapaan digunakan Mbah Pani, air tersebut berubah rasanya menjadi tawar.

“Awalnya itu airnya asin, karena kan memang dekat laut sih ya. Itu sempat dirasakan sama adik saya, asin. Tapi kemudian berubah jadi tawar setelah ditempati Mbah Pani,” katanya.

Selama proses tapa pendem ini, rumah Mbah Pani selalu disesaki orang. Terlebih saat proses pembongkaran lahat, ribuan orang datang berdesakan. Hingga polisi harus turun tangan untuk mengamankan lokasi.

 

Sejumlah relawan BPBD Jepara melakukan evakuasi terhadap Nur Hasan, warga Bangsri yang mengalami kolap saat mencoba hidup di kawasan  Puncak Songolikur, Gunung Muria. (Dok BPBD Jepara)

 

Petapa Dievakuasi dari Puncak Songolikur

Berbeda dengan Mbah Pani yang sukses menjalani tapa pendem selama lima hari, Nur Hasan (35), warga Desa Srikandang, Kecamatan Bangsri, Jepara, harus dievakuasi tim SAR dari Puncak Songolikur, Pegunungan Muria.

Pria ini harus dievakuasi dari puncak gunung karena kondisinya memburuk setelah menjalani nazar nyepi di tempat tersebut. Operasi penyelamatan ini terjadi pada abtu (1/6/2019) malam.

Nur Hasan diketahui sudah lebih dari 3 pekan berada di kawasan Puncak Gunung Muria. Pria ini menyatakan dirinya tengah menjalani laku batin.

Namun saat berada di kawasan puncak gunung tersebut, Nur Hasan tidak melengkapi diri dengan perlengkapan dan perbekalan yang cukup. Kondisinya diketahui memburuk oleh beberapa pendaki, yang selanjutnya melaporkan hal ini ke pihak-pihak terkait.

“Dia ini mengaku punya nazar untuk menyepi di puncak Muria sampai 40 hari. Tanpa perlengkapan dan perbekalan yang memadai, kondisinya ngedrop. Sempat diminta turun warga tidak mau. Daripada terjadi apa-apa akhirnya diberangkatkan tim untuk menjemputnya,” ujar Arwin Noor Isdiyanto, Kepala BPBD Jepara.

 

Foto pemuda 19 tahun dengan perempuan 58 tahun di Pati yang viral. (istimewa)

 

Geger Nenek-Nenek Kawini Bocah Ingusan

Peristiwa yang juga bikin gempar warga adalah adanya kabar seorang nenek berusia 58 tahun di Kabupaten Pati, yang menikahi seorang pemuda berusia 19 tahun. Foto keduanya tersebar luas di media sosial.

Dalam foto itu terlihat, kedua mempelai berada di Kantor KUA Kecamatan Tayu, Pati untuk mendaftar.

Setelah dilakukan penelusuran, pemuda itu adalah Purwanto warga Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Pati. Sementara nenek itu adalah Sutami, warga Desa Jepat Lor, Kecamatan Tayu, Pati.

Rencananya, kedua pasangan itu memang bakal melangsungakan pernikahan Rabu (3/7/2019) hari ini di Balai Nikah KUA Tayu. Namun, momen spesial itu batal lantara mempelai pria memalsukan surat persetujuan orang tua.

Lebih dari itu, dari pihak mempelai wanita juga tidak memperkenankan Sutami menikah dengan Purwanto.

Kepala KUA Tayu Ahmad Rodli membenarkan peristiwa tersebut. Dia mengatakan, pernikahan akan dilakukan pada pukul 08.00 WIB. Setelah ditunggu beberapa lama, ibu dari mempelai pria datang ke KUA dan meminta agar pernikahan anaknya tersebut dibatalkan.

“Dari keterangan itu, mempelai pria telah memanipulasi surat persetujuan dari orang tua. Menurut undang-undang, anak di bawah 21 tahun harus mendapat surat persetujuan dari orang tua,” katanya, Rabu (3/7/2019).

Ada-ada saja kelakuan anak sekarang.

 

Mobil Suzuki Ertiga yang dikembalikan pencuri. (istimewa)

 

Maling Kembalikan Mobil Curian Plus Surat Maaf

Peristiwa aneh yang cukup mencengangkan kembali terjadi di Pati. Biasanya, orang yang kehilangan motor atau mobil, akan pasrah karena jarang bisa kembali.

Tapi peristiwa di  Desa Mojojati, Kecamatan Cluwak, Pati, pada Mei 2019 lalu itu bikin geleng kepala. Mobil yang sudah lama hilang dikembalikan ke pemiliknya. Bahkan si maling meninggalkan surat permintaan maaf, dengan menyebut dirinya sebagai ’Hamba Tuhan yang tak luput dari dosa’.

Mobil yang dicuri merupakan jenis MPV, yakni Suzuki Ertiga. Mobil milik Sri Hartatik (38), warga desa setempat ini beberapa waktu lalu telah hilang. Dan kini mobil berwarna silver itu telah dikembalikan ke pemiliknya.

Tidak hanya mengembalikan, si pencuri yang tidak diketahui identitasnya itu juga meninggalkan sepucuk surat permohonan maaf kepada pemilik mobil.

“Awalnya saya tahu kabar dari ponakan saya kalau mobil saya ditemukan kandang ayam. Begitu saya cek, ternyata benar, itu mobil saya yang hilang,” katanya saat dikonfirmasi, Selasa (28/5/2019).

Lebih lanjut dia mengatakan, meski tak habis pikir dengan kejadian ini, dia sangat bersyukur. Mengingat mobil miliknya yang sempat dibawa kabur oleh orang pada 1 Mei 2019 lalu, kini telah kembali lagi.

Meski mengembalikan mobil, uang sebesar Rp 17 juta dan dua ponsel milik adik korban yang ikut diambil pelaku tak dikembalikan.

 

Reporter: Cholis Anwar, Budi Erje
Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...