Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

GITJ Margorejo, Gereja Tertua di Pati Jadi Jujukan Penginjil dari Belanda dan Australia

MURIANEWS.com, Pati – Kabupaten Pati mempunyai gereja yang tergolong tua. Sampai saat ini, usianya sudah mencapai 122 tahun. Lokasinya ada di Desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti, Pati. Sekitar 40 kilometer dari pusat kota Pati.

Adalah GITJ Margorejo yang sampai saat ini masih banyak jemaatnya. Menurut Pendeta GITJ Margorejo, Muhadi Sulistyo, gereja tersebut dibangun pada masa kolonial Belanda. Tepatnya tahun 1897 dan awalnya bernama Gereja Mennonite.

Seiring perkembangannya, tempat peribadatan ini berubah nama menjadi GITJ Margorejo. “Setiap tahun gereja ini banyak dikunjungi penginjil dari berbagai negara, terutama dari Belanda dan Australia,” kata Muhadi.

Dia bercerita, berdirinya gereja ini tidak lepas dari seorang berkebangsaan Belanda yang bernama Pendeta Peiter Antonio Janzs pada tahun 1882.

Hiasan di dalam GITJ Margorejo menjelang perayaan Natal. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Saat menginjakkan kaki di Nusantara, Pendeta Peiter bersandar di pesisir Utara Jawa yang kala itu masih berupa hutan belantara.

Setahun kemudian, di wilayah itu menjadi perkampungan yang diberi nama Margorejo yang memiliki arti Jalan Menuju Kemakmuran.

“Tepatnya tahun 1897 didirikanlah Gereja Mennonite yang kemudian pada tahun 1931 berubah menjadi GITJ Margorejo,” tutur Muhadi.

Sayangnya, bentuk bangunan asli gereja ini sudah banyak berubah, lantaran mengalami beberapa kali renovasi. Namun beberapa ciri khas arsitektur Belanda masih dapat dijumpai saat berkunjung di GITJ Margorejo.

“Misalnya peninggalan menara dan lonceng di depan bangunan gereja itu masih asli. Dahulu ada foto bangunan asli gereja, hanya saja dibawa ke Belanda,” ujarnya.

Selain itu, kursi panjang bagi jemaat dan mimbar masih terawat hingga sekarang seperti saat kali pertama ada. Termasuk gaya lama peninggalan kolonial masih coba dipertahankan, di antaranya model pintu dan jendela gereja.

Menjelang perayaan Hari Raya Natal, di sejumlah sudut dalam bangunan juga nampak pohon Natal dengan segala pernak-perniknya.

Seiring perkembangan zaman, luas gereja yang hanya berukuran 9×22 meter dan hanya mampu menampung 350 jemaat ini, selalu dijejali umat Kristiani.

“Rencananya kami akan menambah gedung baru agar para jemaat bisa lebih nyaman dan tidak berdesakan,” pungkasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...