Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Indahnya Toleransi, Masjid dan Gereja di Tempur Jepara Ini Berdiri Berdampingan

MURIANEWS.com, Jepara – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara tidak hanya memiliki keunikan dalam pesona alamnya. Daerah yang saat ini sudah mulai dikenal sebagai daerah tujuan wisata ini, ternyata juga memiliki kehidupan masyarakat yang unik. Utamanya dalam soal masalah memeluk agama.

Di Desa Tempur, ada tiga penganut agama. Di antaranya adalah pemeluk Islam, Kristen dan Aliran Kepercayaan. Hubungan ketiga kelompok pemeluk agama ini sangat luar biasa. Kebersamaan mereka bahkan sama sekali tidak terpengaruh oleh masalah agama yang dipeluk masing-masing.

Sebagai bukti, di Desa Tempur berdiri sebuah Gereja GITJ (Gereja Injil Tanah Jawa) yang lokasinya tepat di depan Masjid Nurul Hikmah. Letaknya hanya berjarak dua meteran berhadapan, di sebuah gang Desa Tempur.

Menurut Triyono (45), pengurus Masjid Nurul Hikmah, situasi ini tidak menimbulkan masalah sama sekali. Kerukunan dan toleransi selalu dijunjung tinggi masyarakat. Di dekat lokasi masjid dan gereja, juga ada petilasan Eyang Abiyoso. Petilasan ini juga digunakan warga untuk berolah religi masyarakat penganut kepercayaan yang ada.

Masjid ini, dibangun pada tahun 2001, sesudah didirikan Gereje GITJ tersebut. Meski mayoritas warga memeluk Islam, namun gereja GITJ lebih dulu didirikan. Meski demikian, tidak ada persoalan apapun soal agama atau kepercayaan.

“Ssaat membangun gereja warga saling membantu. Begitupun saat membangun masjid. Kalau masjid ada kegiatan dan berbarengan dengan ada kegiatan di gereja, maka dua pihak juga sama-sama bertoleransi. Lalu, kalau pas di petilasan Eyang Abiyoso ada kegiatan khaul, warga desa juga bahu membahu membuat hidangan. Kompak pokoknya,” ujar Triyono, Kamis (19/12/2019).

Sedangkan pendeta GITJ Tempur, Suwadi mengaku dirinyalah yang merintis pembangunan gereja di Tempur. Tahun 1984, ada warga yang beragama Kristen bernama Poniyah. Pada awalnya, Suwadi mengaku sempat menentang kehadiran Poniyah ini, karena dirinya semula seorang muslim.

Saat itu, Suwadi mengaku masih menjadi guru mengaji di Tempur. Namun takdir mengatakan lain, saat pada tahun 1988 dirinya akhirnya justru menikah dengan Poniyah. Sejak itu dirinya menjadi bagian dari pemeluk Kristen di Desa Tempur.

“Awalnya sayalah yang menentang. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saya akhirnya menikah dengan Poniyah yang sampai saat ini menjadi istri saya. Sampai akhirnya ada gereja di Tempur,” ujar Pendeta Suwadi menyampaikan kisahnya.

Poniyah sendiri mengaku, dirinya semula juga muslimah. Tahun 1984 dirinya ditakdirkan berubah menjadi kristiani. Sejak 1977 dirinya ditugaskan sebagai guru di Tempur dan baru pensiun 2012 lalu.

Meski akhirnya berbeda agama, Suwadi  tidak kehilangan hubungan persaudaraan dengan keluarganya di Tempur. Ketua Takmir Masjid Nurul Hikmah, Giran adalah kakak kandungnya. Hingga kini hubungan mereka juga hangat dan akrab.

“Jadi di sini kami bisa hidup berdampingan. Rukun dan saling menghormati. Masjid dan Gerja di Desa Tempur bisa dibilang kakak dan adik. Di masjid kakak saya adalah ketua takmirnya. Saya  sendiri di GITJ Tempur. Kami berdampingan tepat berhadapan, dan kami bisa rukun,” ujar Poniyah.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...