Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Di Jateng Ada 57 Ribu Sarjana Milenial Tekuni Pertanian, Mampu Dongkrak Ekspor

0 268

MURIANEWS.com, Semarang – Jumlah kalangan milenial di Jawa Tengah yang terjun ke dunia pertanian ternyata cukup banyak. Jumlahnya mencapai sekitar sepertiga dari total petani di provinsi ini yang jumlahnya mencapai 2,88 juta orang.

Catatan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, jumlah petani milenial di Jateng tercatat sebanyak 975.600 orang. Jumlah itu menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng Suryo Banendro, setara dengan 33,7 persen dari total petani di Jateng.

Dari jumlah petani milenial itu, sebanyak 57.600 orang merupakan lulusan sarjana. ”Mereka konsen pada 22 komoditas hortikultura, tanaman pangan dan hasil perkebunan,” katanya, Rabu (4/12/2019).

Kehadiran para petani milenial ini menurut dia, diyakini membawa angin segar pada sektor pangan. Karena menurut dia, sektor ini memang perlu dikelola sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas, inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Selain itu menurut dia, petani milenial itu juga terbukti cukup berkontribusi dalam mendorong masuknya komoditas pertanian Jateng ke pasar internasional. Hingga September 2019, nilai ekspor produk pertanian Jawa Tengah mencapai Rp 2,51 triliun.

Komoditas yang diminati pasar internasional antara lain kedelai, edamame, petai, jengkol, kapulaga, kacang-kacangan, kopi dan daun kelor. Beras hitam, daun cincau, gula merah dan margarin asal Jawa Tengah pun rutin diekspor ke Australia, Malaysia, Srilanka dan Bangladesh.

Sarang burung wallet juga memberi porsi dengan nilai ekspor hingga Rp 4,2 miliar. Dari beberapa komoditas tersebut, kopi menjadi produk pertanian yang paling diminati.

“Kopi hasil produksi pertanian Jateng sudah memiliki 9 negara tujuan ekspor, yakni Mesir, Italia, Georgia, Jepang, Iran, Uni Emirat Arab, Spanyol, Korea Selatan dan Taiwan,” ujarnya.

Ia juga menyebut, tingginya pemanfaatan inovasi pertanian oleh petani milenial juga berimbas pada jumlah produksi.

Sehingga meskipun lahan pertanian di Jawa Tengah menyusut, dari 1.000.699 hektare tahun lalu menjadi 1.000.577 hektare tahun ini, namun produksi pertanian justru meningkat dari 9,8 juta ton menjadi 9,11 juta ton.

“Ternyata modernisasi pertanian lebih efektif. Selisih panennya sangat banyak. Sebelum modernisasi 5,4 ton gabah kering giling setelah modernisasi jadi 5,8 ton gabah per hektare,” kata Suryo.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, berinovasi dengan menerbitkan e-sertifikat ekspor dan memberikan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas SDM petani milenial.

Tahun ini Pemprov Jateng memberikan pelatihan kepada 2 ribu petani milenial. Tahun depan, pelatihan akan diberikan kepada 3 ribu petani dari kelompok petani muda dan pesantren.

“Kami mendampingi petani mulai dari proses penanaman hingga penjualan, kami temukan langsung dengan pembeli. Ternyata ini bisa memotong rantai pasok dengan kualitas produk yang telah terstandar. Ini yang menjadi daya tarik mereka,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.