Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ganjar Ultimatum Perusahan Pencemar Bengawan Solo, Diberi Waktu 12 Bulan

MURIANEWS.com, Semarang – Sebanyak 15 perusahaan besar yang terindikasi melakukan pencemaran di aliran sungai Bengawan Solo, Selasa (3/12/2019) dipanggil Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Mereka diultimatum untuk menghentikan pembuangan limbah ke sungai.

Selain itu, para perusahaan itu diberikan waktu selama 12 bulan untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbah. Selama proses ini, aktivitas pembuangan limbah ke sungai harus dihentikan.

Jika peringatan ini diabaikan, Ganjar mengancam akan menyerahkan kasus ini ke aparat hukum.

Ia menyebut, para pengusaha yang dipanggil serta perwakilan industri sedang, pelaku UKM dan peternakan, sudah sepakat dengan ketentuan tersebut.

“Selama kurun waktu itu (12 bulan), aktivitas pembuangan limbah ke sungai harus dihentikan. Jika masih melakukan pelanggaran, saya minta aparat penegak hukum untuk turun tangan,” katanya.

Menurut dia, para perusahaan itu sudah menekan keontrak untuk perbaikan sistem pengolahan limbah. Ganjar juga memastikan, pihaknya akan menerjunkan

Sebanyak 15 perusahaan besar dan beberapa perwakilan perusahaan menengah, UKM dan peternakan lanjut Ganjar sudah sepakat dan meneken kontrak. Untuk pelaksanaannya, Ganjar mengatakan akan menerjunkan tim khusus untuk melakukan pengawasan.

“Misal tidak cukup waktunya untuk perbaikan sistem pengolahan limbah, maka harus izin khusus ke saya, nanti akan kami pantau perkembangannya,” terangnya.

Namun jika dari hasil pemeriksaan selama setahun itu tak ada upaya perbaikan pengelolaan limbah, dan tetap nekat membuah limbah ke Bengawas Solo maka penegak hukum akan bertindak.

Baca: Ganjar Bakal Panggil Perusahaan Pembuat Bengawan Solo Tercemar

Ganjar menyebut peran industri besar dalam pencemaran di Bengawan Solo cukup besar. Karena mulai dari hulu sampai hilir, sejumlah industri besar berdiri di hampir semua titik lokasi yang dilewati Bengawan Solo.

“Ada banyak perusahaan besar, mulai Wonogiri, Sragen, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Solo, Boyolali sampai Blora. Ada ratusan, belum ditambah perusahaan menengah, kecil dan peternakan,” katanya.

Untuk perusahaan besar lanjut Ganjar, mungkin tidak akan ada persoalan terkait pengelolaan limbahnya karena memiliki keuangan cukup. Namun pada perusahaan sedang dan UKM, persoalan limbah akan menjadi persoalan.

“Industri batik, tahu, ciu itu yang cukup sulit, karena mereka industri kecil. Maka saya tawarkan untuk memberikan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Dari Kementerian LHK juga mendukung untuk memfasilitasi,” tambahnya.

Ganjar menyebut, persoalan pencemaran Bengawan Solo ini cukup serius. Bahkan PDAM Blora berhenti beroperasi karena air dari sungai ini berbau dan berwarna hitam pekat.

Terkait masalah ini, Ganjar juga telah menginstruksikan PDAM Blora agar melakukan langkah-langkah strategis sembari menunggu air Bengawan Solo bisa diolah menjadi air bersih.

“Saya minta PDAM Blora agar pinjam air dulu atau hutang air agar masyarakat dapat tetap mendapat pasokan air bersih,” pungkasnya. (lhr)

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...