Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Di Jepara Ada 349,05 Hektare Lahan Kritis, Tiap ASN Diwajibkan Tanam Satu Pohon

MURIANEWS.com, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara mencatat, lahan kritis di wilayah Jepara cakupannya mencapai 349,05 hektare. Wilayah ini di luar wilayah hutan lindung, dan hutan perkebunan milik Perhutani.

Kepala DLH Jepara Farika Elida menyatakan, kawasan lahan kritis tersebut mencakup wilayah-wilayah di lereng Muria. Sebagian besar di wilayah Kecamatan Batealit, Keling, Mayong dan Kembang.

Selain itu, di beberapa wilayah pesisir Jepara juga ada lahan kritis yang perlu mendapatkan perhatian.

Untuk mengurangi lahan kritis di Jepara, DLH Jepara masih terus melakukan program rehabilitasi dan reboisasi. Penyediaan bibit tanaman, juga terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Lahan kritis yang muncul, juga memengaruhi ketersediaan air bersih bagi masyarakat Jepara.

“Saat ini kami sudah menyiapkan 400 ribuan bibit. Sebagian besar merupakan tanaman keras. Lainnya bibit tanaman buah. Masyarakat bisa memanfaatkan bibit ini secara gratis,” ujar Farika Elida, Rabu (27/11/2019).

Untuk lebih memberi penekanan dalam program reboisasi, pihaknya juga akan menggelindinkan gerakan satu ASN (Aparatur Sipil Negara) satu pohon. Gerakan ini akan mengajak setiap ASN di Jepara untuk menanam minimal satu pohon di halaman rumah mereka.

Selanjutnya juga akan dilanjutkan dengan gerakan satu pohon satu KK (Kepala Keluarga). Dengan gerakan ini, diharapkan kebutuhan lahan hijau untuk wilayah Jepara akan bisa dipenuhi.

“Itu nanti akan kita laksanakan. Momentum Hari Korpri (Jumat 29/11/2019) akan kami mulai dengan membagikan bibit kepada semua ASN yang hadir dalam upacara. Mereka harus menanamnya di pekarangan rumahnya, dimanapun yang bisa digunakan untuk menanam,” tambah Farika Elida.

Sementara itu, Duddy Ika Kristiawan, Kasi Pengendalian Kerusakan dan Pengembangan Kapasitas di DLH Jepara, menyebut wilayah Batelait dan Keling yang paling banyak memiliki lahan kritis.

Di wilayah ini banyak terjadi proses alih fungsi lahan. Di sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) wilayah-wilayah tersebut terjadi banyak perubahan fungsi lahan. Akibatnya ada persoalan-persoalan terkait dengan masalah serapan air.

“Masalah lahan kritis selalu mendapatkan perhatian kami. Namun tentunya hal ini juga memerlukan partisipasi semua pihak. Lahan kritis tentu saja tidak menguntungkan,” ujar Duddy, Rabu (27/11/2019).

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...