Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Disdikpora Kudus: 31 Sekolah di Kota Kretek Rawan Bencana 

0 80

MURIANEWS.com, Kudus – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus tengah memetakan sekolah rawan bencana di seputaran Kota Kretek. Untuk sementara, setidaknya ada 31 sekolah yang dinyatakan rawan bencana.

Ke-31 sekolah tersebut di antaranya adalah 20 sekolah dengan status rawan banjir karena berada di daerah langganan banjir. Sedang 11 sekolah lainnya termasuk kategori rawan longsor karena berada di daerah rawan longsor.

Kasi Sarana Prasarana Supriyono pada Disdikpora mengatakan, dua bencana tersebut memang paling dominan mengancam sekolah di Kudus. Hal ini mengacu pada beberapa tahun terakhir yang selalu menjadi langanan bencana.

“Selain banjir dan longsor, sebenarnya ada juga bencana angin puting beliung. Tapi, karena sifatnya yang mendadak, maka sedikit sulit untuk dipetakan,” katanya, Jumat (22/11/2019).

Lebih rinci Supriyono mengatakan, 19 SD yang rawan banjir tersebut adalah SD 1 dan SD 2 Setrokalangan (Kaliwungu), SD 1 Gamong (Kaliwungu), SD 1, SD 3 dan SD 4 Jati Wetan (Jati), SD 1 dan SD 2 Tanjungkarang (Jati), SD 2 Karangrowo (Undaan), SD 3 Kalirejo (Undaan), SD 4 dan SD 5 Temulus (Mejobo).

Kemudian ada SD 1 dan SD 2 Jojo (Mejobo), SD 4 Golantepus (Mejobo), SD 2 Hadiwarno (Mejobo), SD 1 dan SD 3 Kirig (Mejobo) serta satu SMP yakni SMP 2 Undaan yang juga berstatus rawan banjir.

Sementara 11 sekolah rawan longsor terdiri dari 10 SD dan 1 SMP yang tersebar di Kecamatan Gebog dan Dawe. 11 sekolah rawan longsor yakni SD 3 Tergo (Dawe), SD 3 dan SD 4 Soco (Dawe), SD 4, SD 5 dan SD 6 Puyoh (Dawe), SD 2, SD 4 dan SD 5 Rahtawu (Gebog), dan SD 2 Menawan (Gebog).

“Serta ada SD 3 Glagah Kulon (Dawe) dan SMP 3 Dawe,” ucapnya.

Untuk pencegahan, Supriyono mengatakan pihaknya telah meninggikan beberapa sekolah yang memiliki status rawan banjir. Hanya, diakui masih sebatas meninggikan ruangan lokalnya dan belum menjamah lapangan sekolah.

Mengingat apabila akses sekolah adalah jalan beton dan terjadi hujan deras lalu banjir, maka akan membuat halaman sekolah tergenang “Karena itu membutuhkan biaya besar dalam hal ini, setidaknya masih bisa digunakan untuk kegiatan belajar mngajar,” terangnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.