Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Stabilisasi Harga, Bulog Pati Gelontorkan 15 Ribu Ton Beras

MURIANEWS.com, Pati- Sebagai upaya untuk stabilisasi harga di pasaran, Bulog Subdivre II Pati menggelontorkan 15 ribu ton beras. Belasan ribu ton beras itu dikirim ke mitra distributor dan langsung ke pasar-pasar.

Kepala Subdivre Bulog Pati Yonas Haryadi Kurniawan mengatakan, sampai pada akhir tahun 2019 ini, setidaknya ada 15 ribu ton yang harus keluar dari gudang. Hal itu agar harga beras di eks-Karesidenan Pati tetap stabil.

“Kalau per hari, kita bisa mengeluarkan 50 ton. Itu bisa kurang dan bisa lebih, tetapi rata-rata memnag 50 ton,” katanya, Selasa (19/11/2019).

Dia menilai, program stabilisasi harga ini tidak bisa secara maksimal untuk mengurangi stok beras yang ada di gudang. Apalagi saat ini masih 30 ribu ton beras yang ada di gudang. Setidaknya, penggelontoran 15 ton beras untuk stabilisasi harga ini bisa sedikit mengosongkan gudang Bulog.

“Kalau stok beras di gudang melimpah, tentunya kami tidak bisa melakukan penyerapan. Lha gudangnya sudah penuh. Kalau ada penyerapan, nanti berasnya kami taruh mana,” terangnya.

Dia menyebut, melimpahnya stok beras di gudang Bulog ini terjadi karena kawasan Pati merupakan produsen beras. Selain itu, masih ada panen yang secara sporadis dilkaukan para petani. Hingga kini pihaknya juga masih terus melakukan penyerapan beras dari petani.

“Kami masih melakukan penyerapan. Tetapi juga selektif, tidak sembarang beras bisa kami terima. Apalagi di gudang juga masih sangat banyak,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah memberi kebijakan khusus pada Bulog, terutama untuk menjaga stabilitas harga pangan dari hulu ke hilir. Sebab, jika Bulog mengalami kerugian, tentunya yang rugi juga negara.

“Kalau stabilisasi harga ini dilakukan dari hulu ke hilir, maka tidak ada lagi yang namanya ketimpangan pangan,” pungkasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...