Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Cerita Pakde dan Bude, Warga Kudus yang Selamat dari Kerusuhan Wamena September Lalu

0 941

MURIANEWS.com, Kudus – Nama aslinya adalah Zaenal Fitri (45) serta istrinya Karni (40) yang kerap dipanggil pakde dan bude di tempat rantauannya di Jalan Bhayangkara, Wamena, Papua. Keseharian mereka adalah berjualan di warung lalapan.

Mereka berdua adalah dua dari sekian banyaknya pengungsi yang berhasil dipulangkan pemerintah pascameledaknya kerusuhan di Wamena pada 23 September 2019 lalu. Kini, mereka tengah menjajaki hidup barunya sebagai warga Kudus. Tepatnya di Perumahan Sumber 3, Jekulo, Kudus.

Tak ada yang istimewa dari rumah mereka kini. Sisa rumput ilalang pun masih segar tertumpuk pasca dibersihkan. Mereka berdua memang baru tiba di Kudus kemarin sore. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan panjang dari Papua menuju Surabaya dan ke Kudus.

“Keadaannya seperti ini, dua tahun sudah tidak dihuni, Kami di sana empat tahun, dulu pernah pulang saat dua tahun di sana,” kata Karni yang mulai membuka  pembicaraan, ketika dijumpai MURIANEWS.com pada Jumat (18/10/2019) siang.

Sedikit demi sedikit, ia pun menceritakan apa yang dialami saat kerusuhan terjadi. Tanggal 23 September, Karni bersama suaminya menjalankan aktifitas seperti biasa. Berbelanja, masak, dan menyiapkan warung untuk segera buka.

“Saat itu benar-benar dadakan, tidak ada apa-apa, hanya sepi saja,” lanjutnya.

Karni lantas berbincang dengan warung tetangga sebelahnya yang berpikiran sama. Dengan inisiatif, salah satu pedagang pun mencoba melihat ke kota. Mengingat dari yang sudah-sudah, jika kondisi sepi pasti ada demo di kota.

“Benar saja, memang ada demo, hanya memang sudah biasa, jika demo semuanya pasti tutup,” lanjutnya.

Namun, saat itu demo benar-benar berbeda. Beberapa swalayan dan pasar dibakar habis demonstran. Penyerangan pada para kaum pendatang pun mulai dijumpai. Massa kemudian merangsak maju ke Jalan Bhayangkara.

“Saat itu kami (Karni dan Zaenal) terpisah menyelamatkan diri masing-masing,” katanya.

Karni dan Zaenal akhirnya bertemu di barak pengungsian Makodim Wamena setelah sebelumnya terpisah ketika penyerangan dan pembakaran kios oleh sejumlah massa tak dikenal mulai membabi buta.

“Yang terpenting saat itu menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu,” terangnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.