Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bentuk Satgas di Tiap Desa, Ganjar Eksekusi Rekomendasi Konggres Sampah

MURIANEWS.com, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memastikan akan tancap gas melaksanakan rekomendasi dari Konggres Sampah yang digelar di Tuntang, Kabupaten Semarang, 12-13 Oktober 2019. Rekomendasi tersebu nantinya akan diimplementasikan dalam APBD dan mulai dieksekusi tahun 2020.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan telah membentuk tim khusus. Tim itu bertugas untuk memberikan rumusan yang akan dimasukkan dalam APBD 2020.

“Saya lagi nyusun APBD, untuk kita rancang agar soal penanganan sampah bisa masuk. Terlebih kepala Dinas LHK ditunjuk sebagai ketua Dewan Konsorsium Sampah yang juga melibatkan pengusaha, tokoh masyarakat, seniman dan lainnya,” kata Ganjar, Senin (14/10/2019).

Dalam konggres itu ada empat rekomendasi yang diberikan kepada Ganjar. Yakni pembentukan Satgas Sampah di seluruh desa di Jateng; mencanangkan gerakan pemilahan sampah 3 Ng (ngelongi, nganggo dan Ngolah, memberi insentif pada inovasi pengolahan, serta pembentukan Dewan Konsorsium Sampah Jateng.

“Ada konsorsiumnya. Jadi secara kelembagaan ada. Ini yang akan kita jadikan acuan untuk mengeluarkan kebijakan. Jadi (Kongres Sampah) ini bukan sekadar kumpul-kumpul atau pertukaran wacana,” ujarnya.

Tim yang dibentuk untuk membuat rumusan terkait rekomdasi Konggres Sampah itu terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pemerintahan, akademisi, aktivis serta inovator persampahan.

Rumusan itu meliputi mana rekomendasi yang harus dibuat regulasi, mana yang perlu dukungan politik anggaran, mana yang jadi dorongan atau perintah terkait penanganan persampahan.

Untuk pembentukan Satgas Sampah, Ganjar mengatakan adalah hal yang sangat mungkin digalakkan. Terlebih sudah ada embrionya di Desa Kesongo, tempat diselenggarakannya Kongres Sampah. Namun Ganjar mengatakan gerakan tersebut memang memerlukan waktu.

“Kongres Sampah ini adalah titik bertemunya para inovator, kreator dan pelaku yang masing-masing punya pengalaman baik untuk mengelola sampah., Ketika orang mudah marah soal sampah sebenarnya mereka berimajinasi seolah-olah mengatakan ayo kita bereskan dan kerjakan. Tapi bagaimana mengerjakannya? Praktik baik di level desa itu berbeda apalagi di perkampungan kota,” katanya.

Perbedaan cara itulah yang akan diterapkan Ganjar untuk mengatasi sampah di Jawa Tengah. Dia mengutip filosofi Jawa, desa mawa cara negara tata. Yang makanya setiap wilayah punya kearifan lokal masing-masing, maka negara yang harus memadukan.

Cuma, lanjut Ganjar, ketika hal tersebut tidak terlalu efektif bisa dilanjutkan dengan membuat aturan. Urutannya dari imbauan ke masyarakat kemudian dilahirkan regulasi.

Dengan adanya kelembagaan yang mengawasi sampah seperti Dewan Konsorsium Sampah yang telah dicanangkan di Kongres tersebut, Ganjar berharap memperoleh data riil soal persampahan dari dalam rumah hingga pengolahan.

Kalau itu sudah berjalan, menurut Ganjar akan lebih memudahkan pengelolaannya di TPA, misalnya di Cilacap, Semarang dan Solo. Tiga Kota itu bisa dijadikan replikasi pengelolaan TPA di daerah lain.

“Kita ukur satu tahun nanti ada perubahan di setiap area atau tidak? Nah perguruan tinggi akan kita libatkan untuk ini,” terangnya.(lhr)

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...