Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ada Dosen di Magelang Nyinyir Soal Wiranto, Diperiksa Dewan Etik

0 2.146

MURIANEWS.com, Magelang – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tidar (Untidar) Magelang Hendrarto diperiksa Tim Etik universitas tersebut. Penyebabnya, Hendarto berkomentar nyinyir di media sosial terkait penyerangan yang menimpa Menkopulhukam Wiranto.

Kepala Biro Hukum dan Keuangan Untidar Magelang Among Wiwoho mengatakan, hingga saat ini dewan etik masih melakukan pemeriksaan terhadap Hendarto.

“Saat ini Hendrarto masih menjalani pemeriksaan di Untidar,” katanya dikutip dari AntaraJateng, Senin (14/10/2019).

Sebelumnya, di media sosial Hendrarto menyatakan sejumlah pernyataan nyinyir terkait penusukan Wiranto. Antara lain “Habis ditusuk obati pakai Betadine aja, terus suruh pulang. Jangan cengeng dan jangan jadi beban negara! Gag malu sama anak STM apah?“.

Komentar ini pun sempat viral di media sosial. Akibat unggahan itu, menurut Among, pihaknya mendapat teguran dan peringatan secara lisan dari Kemenristekdikti yang disampaikan melalui telepon pada Minggu (13/10/2019). Kementerian mengarahkan agar dosen Jurusan Administrasi Negara itu segera diproses.

Ia menyebut, pihaknya merasa kecolongan dan tidak nyaman dengan kasus ini. Oleh karenanya, tim etik langsung melakukan pemeriksaan. Kendati demikian, ia mengaku belum mengetahui hasil pemeriksaan itu.

“Kami punya dewan kode etik dan tim pembinaan aparatur. Proses kita serahkan ke dewan kode etik, bagaimana sikap pimpinan terhadap kasus itu,” ujarnya.

Ia menuturkan dari hasil pemeriksaan nantinya akan disimpulkan dan ditindaklanjuti, apakah yang bersangkutan melanggar kode etik. Setelah dilakukan rangkaian pemeriksaan-pemeriksaan, barulah ada sanksi disiplin yang dijatuhkan.

Ada sejumlah sanksi yang bisa diterapkan. Mulai dari ringan hingga terberat. Sanksi disiplin ringan dapat berupa teguran ringan, tertulis dan pernyataan tidak puas secara tertulis. Sanksi sedang berupa penundaan kenaikan gaji berkala dan penundaan kenaikan pangkat.

Sementara sanksi berat berupa penurunan pangkat hingga pemberhentian baik secara hormat dari permintaan yang bersangkutan maupun tidak hormat.

”Sementara ini sebelum ada sanksi, yang bersangkutan masih melakukan aktivitasnya mengajar seperti biasa,” terangnya.

Hendrarto diketahui bekerja sebagai dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sejak 1992. Ketika itu Untidar masih perguruan tinggi swasta. Tahun 2014 Untidar sudah perguruan tinggi negeri, dan Hendrarto dalam proses dari pegawai yayasan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Arahnya akan menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Hendrarto juga pernah menjabat sebagai Ketua KPU Kota Magelang tahun 2008.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha
Sumber: AntaraJateng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.