Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Untung Melimpah dari Minyak Curah, Kini Terganjal Aturan Pemerintah

0 105

MURIANEWS.com, Pati – Bisnis penjualan minyak curah, selama ini memang tergolong sangat menguntungkan. Apalagi pelaku usaha makanan ringan, memang merasa lebih irit menggunakan minyak curah dibandingkan dengan minyak goreng kemasan. Selain itu, harganya jauh lebih murah.

Seperti yang dilakoni oleh Rudi Sulistiyantono, warga Dukuh Ngagul, Desa Muktiharjo, RT 1 RW 5, Kecamatan Margorejo, Pati. Sebagai agen, dalam sehari dirinya bisa menjual hingga 1.000 liter minyak curah dengan harga rata-rata Rp 8.450 per liter.

Rudi mengatakan, dia melakoni usaha tesebut sudah sejak 25 tahun yang lalu. Hingga saat ini, pelanggan yang datang ke tokonya pun tidak sedikit.

“Pelanggan ada banyak. Rata-rata memang penjual makanan ringan yang digoreng. Mereka lebih memilih minyak curah, karena harganya lebih murah,” katanya.

 

Pekerja mengisi jeriken dengan minyak goreng curah. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Salah satunya perajin keripik tempe di Desa Langse, Kecamatan Margorejo, yang setiap hari mengambil 300 liter minyak curah. Selain itu, ada juga yang dalam sebulan mengambil sampai 1.400 liter curah.

“Pelanggan yang paling banyak memang pelaku usaha makanan ringan. Warga juga banyak yang beli curah, apalagi kalau ada hajatan besar,” terangnya.

Dia mengaku, untuk mendapatkan minyak curah, dirinya memesan langsung dari Pelabuhan Semarang. Yakni dari kapal besar yang memang mengangkut minyak curah tersebut.

“Kalau asal minyak itu, saya tidak tahu. Tapi saya pesan langaung dari kapal di Semarang,” lanjutnya.

Sekali mengambil, dirinya bisa membawa 50 drum atau setara dengan 9.000 liter minyak. Tidak ada sepekan, minyak itu pun bisa langsung habis.

Diakuinya, keuntungan yang didapat dari penjualan curah juga lumayan besar. Terbukti, 25 tahun Rudi menekuni usaha itu, kondisinya sekarang terbilang sukses.

Baca: Minyak Goreng Wajib Pakai Kemasan, Pedagang Minyak Curah di Pati Resah

Hanya saja, ketika pemerintah membuat peraturan agar minyak curah dikemas dan diberikan label halal, tentu itu menjadi kendala tersendiri bagi Rudi. Terlebih harganya pun harus sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 11.000 per liter.

“Kami akan berusaha membuat kemasan dan mendaftarkan di MUI agar dapat sertifikat halal. Tapi tentunya itu butuh proses dan modal lagi,” ungkapnya.

Ia juga khawatir, ketika minyak curah harus dikemas, pelanggan yang sudah terbiasa justru akan beralih. Sebab, mereka rata-rata membeli dalam jumlah banyak dan tidak menggunakan kemasan.

“Kalau ada kemasan, harganya kan pasti bertambah. Untuk ongkos plastik, sablon, perizinan dan lain sebagainya. Semoga ada jalan keluar lah untuk semua ini,” harapnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.