Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Gelar Konggres Sampah Pertama di Indonesia, Ini yang Diharapkan Ganjar

0 30

MURIANEWS.com, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginisiasi Konggres Sampah yang bakal jadi kali pertama digelar di Indonesia. Konggres ini akan digelar selama dua hari pada 12-13 Oktober 2019, di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Ganjar Pranowo menyebut, mempunyai target tersendiri dalam pelaksanaan Konggres Sampah itu. Yakni melahirkan sistematika persampahan hulu hingga hilir, dari produksi sampah hingga pemanfaatannya.

Apalagi kondisi sampah di negara ini cukup mengkhawatirkan. Ia menyebut, di Jawa Tengah produksi sampah per tahun mencapai 5,7 juta ton atau 15.671 ton perhari.

Sementara di provinsi ini hanya ada 1.562 Bank Sampah, 144 TPA 3 R dan 542 Rumah Rosok yang bisa mengurangi 267.861 atau hanya 4,71 persen. Sehingga menurutnya, diperlukan sistematika yang jelas agar persoalan sampah bisa teratasi.

Untuk di tingkat nasional saja, total produksi sampah mencapai 67 juta ton pertahun. Sampah organik dan plastik masih mendominasi dengan persentase, 60 persen untuk organik dan 15 persen untuk plastik.

“Hari ini banyak orang bicara, saya punya bank sampah, punya relawan dan lainnya. Atau bahkan ada ungkapan ini mesti diselesaikan pemerintah dengan membayar orang. Tapi semua itu sudah ada dan ternyata persoalan sampah belum bisa kita tangani,” kata Ganjar, Selasa (8/10/2019).

Ia menyebut, sebelum konggres digelar forum tersendiri yang mengumpulkan ide-ide mengenai penataan sampah. Sistematika sederhana yang telah dihasilkan forum pra Kongres Sampah itu menurut Ganjar mencakup persoalan sampah di hulu yang meliputi perilaku masyarakat, di hilir yang mencakup pemanfaatannya dan di antara keduanya terdapat pengelolaan.

Sementara dalam pelaksanan konggres nantinya akan ada beberapa sidang komisi. Tiap komisi beranggotakan akademisi, birokrat, masyarakat dan aktivis yang akan mengidentifikasi dan mengeluarkan keputusan terkait beberapa persoalan itu.

“Dari itu saya mengharapkan dari Kongres Sampah ini akan ada output. Ada yang fokus menangani perilaku masyarakat yang mesti berubah, ada yang fokus regulasi, harus ada tempah sampah misalnya atau ada solusi lain. Teknologi sampah yang sudah ada akan bermanfaat jika perilaku kita sudah tertata,” katanya.

Meski demikian, Ganjar mengakui hal ini bukan pekerjaan ringan. Ia berkaca pada Kongres Sungai yang telah berjalan selama empat tahun ini dan lahirlah Sekolah Sungai di beberapa daerah.

Menurutnya memang dibutuhkan yang lama untuk masyarakat untuk merawat sungai, termasuk dalam hal sampah.

“Saya tidak bisa memprediksi sampai berapa tahun akan dilakukan, tapi gerakan harus kita dorong dan perilaku kita tanamkan. Di Jepang misalnya, mereka saja butuh waktu 50 tahun untuk mengubah perilaku warganya. Maka dalam kongres ini kita undang seluruh daerah agar bareng-bareng mewujudkan spirit ini,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.