Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Jepara Bakal Jadi Wilayah Pertama di Jateng yang Alami Hari Tanpa Bayangan

0 63.527

MURIANEWS.com, Semarang – Wilayah Jawa Tengah akan mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan secara beruntun. Fenomena ini akan terjadi selama beberapa menit dan bermula pada siang hari sekitar pukul 11.24 WIB.

Fenomena tersebut terjadi ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Fenomena ini juga disebut sebagai kulminasi utama.

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang menyebut, jika di Jawa Tengah fenomena ini akan terjadi mulai Kamis (10/10/2019). Seluruh wilayah di Jawa Tengah akan mengalami fenomena ini, namun hari dan waktunya berbeda.

BMKG menyebut, Hari Tanpa Bayangan akan muncul selama empat hari. Wilayah pertama di Jawa Tengah yang akan mengalami fenomena ini yakni Kabupaten Jepara. Di daerah ini Hari Tanpa Bayangan akan mulai muncul pada pukul 11:24:29 WIB.

Hari berikutnya atau Jumat (11/10/2019) akan ada 15 daerah yang secara serentak mengalami fenomena ini. Yakni mulai dari Pati, Blora, Semarang hingga Brebes.

Dilanjutkan pada hari ketiga yakni Sabtu (12/10/2019) Hari Tanpa Bayangan muncul di delapan daerah, yakni Sragen, Salatiga, Ungaran, Purwokerto, hingga Banjarnegara.

Sedangkan pada tanggal 13 Oktober atau Minggu, Kulminasi Utama akan muncul di bagian selatan Jateng, yakni Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Solo, Banyumas, dan Cilacap.

“Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie, kepada wartawan.

Baca: Warga Hingga Tentara di Jepara Coba Buktikan Hari Tanpa Bayangan

Ia memastikan munculnya Hari Tanpa Bayangan atau kulminasi utama tak berdampak apa pun bagi manusia. Hanya saja, saat kulminasi utama itu terjadi manusia tak dapat melihat bayangannya.

Sementara Kepala Stasiun Meteorologi Cilacap Taruna Mona Rachman menjelaskan, kulminasi juga sering disebut transit atau istiwa’. Fenomena ini sebenarnya selalu terjadi dua kali dalam setahun.

Hanya saja, fenomena ini selalu menarik saat terjadi pada kemarau. Karena pada kemarau, tutupan awan minim sehingga mempermudah pengamatan.

Ia menyebut, Jepara akan menjadi wilayah pertama di Jateng yang mengalami fenomena ini, karena wilayahnya berada pada sisi utara timur Jawa Tengah.

”Jika Jepara menjadi wilayah yang tercepat di Jawa Tengah, Cilacap akan menjadi wilayah terkahir di Jawa Tengah yang mengalami fenomena ini,” terangnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.