Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Skor Kebencanaan di Jateng Tinggi, Longsor dan Kebakaran Mendominasi

0 28

MURIANEWS.com, Semarang – Provinsi Jawa Tengah mempunyai kerawanan bencana yang sangat tinggi. Bahkan dalam Indeks Risiko Bencana 2013 pada kelas risiko bencana tinggi, Jateng mempunyai skor sebanyak 158.

Dengan skor ini menempatkan Jawa Tengah pada urutan ke-13 sebagai provinsi paling berisiko bencana di Indonesia. Bencana alam yang terjadi di provinsi didominasi oleh longsong dan kebakaran.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono menyebut, frekuensi kejadian bencana di Jawa Tengah selama 2016-2018 cukup tinggi dan fluktuatif.

Ia merinci, pada 2016 data kejadian bencana tercatat 1.574 kejadian. Jumlah itu mengalami kenaikan pada 2017 sebanyak 2.304 kejadian.

Sementara pada tahun 2018 tercatat 1.760 kejadian dengan dominasi bencana tanah longsor, kebakaran, dan angin topan.

“Tahun ini kebakaran juga melanda Gunung Merbabu, yang meliputi Wonolelo, Selo, dan Ampel. Selain di Gunung Merbabu, kebakaran juga terjadi Gunung Slamet yang meliputi wilayah Kabupaten Tegal, Brebes dan Banyumas, serta Gunung Merapi,” ujarnya.

Kebakaran di Gunung Merbabu terjadi di hutan seluas 436 hektare. Kebakaran itu sempat padam pada Minggu (15/9/2019). Namun karena angin yang bertiup kencang, api kembali muncul di dua titik dan kembali membakar hutan.

Sedangkan kebakaran pertama di Gunung Slamet yang meliputi daerah Bumijawa seluas 15 hektare, kemudian meluas ke wilayah Banyumas, lalu melebar ke arah Sawangan Bumijawa seluas 225 hektare.

“Diharapkan kejadian bencana kebakaran di Gunung Merbabu dan Gunung Slamet dapat segera diatasi dengan upaya sinergis semua pihak yang terkait, terutama LHK dan Perhutani,” harapnya.

Sekda menjelaskan, dalam rangka menghadapi bencana diperlukan langkah-langkah atau kiat menuju daerah tangguh dalam menghadapi bencana.

Apalagi musim kemarau tahun ini diprakirakan hingga November 2019. Beberapa langkah menghadapi bencana antara lain menciptakan organisasi dan koordinasi untuk memahami dan mengurangi risiko bencana.

“Selain itu menyiapkan anggaran dalam upaya pengurangan risiko bencana, serta memasang peralatan peringatan dini dan penguatan kapasitas manajemen tanggap darurat,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.