Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kekeringan Ekstrem di Jateng Diprediksi Hingga November

0 210

MURIANEWS.com, Semarang – Kekeringan ekstrem di wilayah Jateng akibat kemarau panjang di wilayah Jawa Tengah diperkirakan akan belangsung hingga dua bulan lagi. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) memperkirakan hujan baru akan mulai turun pada November 2019 mendatang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, dengan panjangnya musim kemarau tahun ini, menempatkannya menjadi nomor dua. Rekor kemarau terpanjang terjadi pada 2015 lalu.

“Musim hujan tahun ini (diprediksi) mundur sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang. Musim kemarau tahun 2015 merupakan yang paling lama, dan tahun ini nomor dua,” ujarnya.

Dengan kondii ini pihaknya meminta semua pihak untuk meningkatkan antisipasi. Terutama untuk mengurangi dampak kekeringan, seperti krisis air bersih.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah Sudaryanto memastikan, pihaknya telah melalukan langkah antisipasi untuk menekan dampak kekeringan ekstrem ini.

Terlebih menurutnya, kemarau ekstrem ini bisa menimbulkan kebakaran lahan maupun hutan. Seperti yang terjadi kawasan pegunungan di Jateng dalam beberapa waktu terakhir.

Pihaknya pun mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak membuang puntung rokok secara sembarangan. Khususnya saat berada di kawasan hutan, karena dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

”Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Termasuk dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan,” terangnya.

Menurutnya, Perhutani, BPBD, TNI, Polri dan relawan sampai sekarang bersama-sama melalukan pemadaman api di kawasan Gunung Merbabu dan Slamet. Sedangkan kebakaran di Gunung Merapi yang melanda wilayah Baleran, Klaten sudah berhasil dipadamkan pada Rabu (19/9/2019) malam.

“Pemadaman terus dilakukan. Sampai sekarang warga sekitar Gunung Slamet dan Merbabu tetap beraktivitas seperti biasa. Bahkan tidak sedikit yang ikut membantu dalam pemadaman kebakaran hutan,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.