Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Lirik untuk Ayunda, Kisah Hidup Kartini dalam Bentuk Opera

0 39

MURIANEWS.com, Jepara – Sebuah pagelaran yang cukup berbeda digelar untuk memeringati Haul RA Kartini yang ke-115 di Jepara, Senin (16/9/2019) malam tadi. Kisah hidup RA Kartini semasa muda hingga tutup usia ditampilkan dalam sebuah pertunjukan opera bertajuk ’Lirik untuk Ayunda’.

Ayunda sendiri merupakan nama yang disebutkan para pelajar di STOVIA Batavia untuk Kartini. Opera ini mengisahkan tentang Kartini yang seorang ningrat mendobrak tradisi yang membelenggu kaum perempuan.

Ayah Kartini adalah Bupati Jepara bernama Raden Ario Sosroningrat dan ibunya Ngasirah dari kalangan rakyat biasa. Kartini kecil sempat merasakan sekolah sampai usianya 12 tahun.

Namun setelah itu, ia harus menjalani hidup di tengah-tengah adat Jawa yang membelenggu selama berabad-abad. Ia pun harus menjalani pingitan, padahal Kartini ingin terus melanjutkan sekolah.

Belenggu adat ini tak membuatnya menyerah. Sebagai gadis muda, jiwa dan semangatnya menggebu-gebu. Kartini terus belajar membaca maupun menulis. Ia bahkan menuliskan ide, gagasan, cita-cita bahkan perlawanan terhadap ketidakadilan perempuan hasil dari pengetahuan dari buku-buku yang ia baca.

Salah satu adegan dalam Opera Lirik untuk Ayunda yang menceritakan kisah tentang RA Kartini. (MURIANEWS.com/Budi Erje)

Kartini juga mendirikan Sekolah Gadis untuk mengajarkan membaca dan menulis bagi perempuan-perempuan di lingkungannya. Setelah dewasa dan menikah, Kartini juga mendirikan Yayasan Kartini di berbagai tempat seperti di Semarang, Rembang, Bogor dan kota-kota lainnya.

Kisah ini ditampilkan dalam opera yang menarik dengan melibatkan para seniman dari Jepara dan didalangi oleh sutradara, Iskak Wijaya.

Ketua Yayasan Kartini Indonesia, Hadi Priyanto menyebut, pementasan ini untuk terus membumikan ide, gagasan dan semangat RA Kartini sebagai salah satu sumber inspirasi dalam memperkuat pembangunan karakter bangsa.

Menurutnya, Kartini tak hanya sosok pejuang atau emansipasi wanita. Kartini adalah penggagas. Teman-temannya di STOVIA bahkan menjulukinya sebagai Ayunda atas pemikirannya yang kritis terhadap ketidakadilan yang membelenggu perempuan dan Bumi Putera.

“Kartini adalah pencetus spirit Jong Java pada tahun 1903. Kemudian spirit itu diteruskan oleh Bung Tomo pada tahun 1915,” ujarnya.

Opera ini digelar di Serambi Belakang Pendapa Kabupaten Jepara, yang dulu digunakan RA Kartini dan kedua adiknya, Rukmini dan Kardinah untuk mendirikan sekolah putri.

Dalam pementasan ini, juga dihadiri para keturunan Kartini. Yakni cicit dari Kartini dari yang bernama Rukmini dan Hanif. Pejabat di Pemkab, kepolisian dan Kodim Jepara, serta perwakilan Yayasan Dharma Bakti Lestari juga ikut hadir memeriahkan.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.