Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Jalani Tapa Pendem, Mbah Pani Pesan Agar Tak Diazani

0 39.742

MURIANEWS.com, Pati – Tubuh Mbah Supani (63) warga Desa Bendar RT 03 RW 01 Kecamatan Juwana, Pati, yang melakukan ritual tapa pendem atau Ngeluwang, saat ini sudah berada di dalam tanah. Tak ubahnya seperti jenazah, Mbah Pani pun dikafani lalu dimasukkan ke dalam liang lahat.

Ketika baru masuk dalam tanah, tubuh Mbah Pani yang berbadan tinggi tegap itu, nampak terbujur. Kemudian salah seorang keluarga menaruhkan gendu (bantal dari tanah) di posisi kepala, badan dan kaki.

Hanya, dalam proses penguburan itu, Mbah Pani berpesan agar tidak dilantunkan azan. Sebab, azan dalam kubur hanya untuk orang yang sudah meninggal.

Setelah proses peletakan gendu selesai, selanjutnya lubang kembali diurug dengan tanah. Ketika sudah agak penuh, dua nisan yang terbuat dari kayu dan bertutup kain kafan kemudian didirikan tepat pada posisi kepala dan kaki Mbah Pani.

“Prosesnya sama seperti mengubur jenazah. Tetapi kalau ritual Mbah Pani ini tidak ada azan,” kata Suyono, keluarga Mbah Pani.

Mbah Pani yang melakukan tapa pendem, malam ini. Tapa ini telah dilakukannya sebanyak sembilan kali. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Ketika tanah sudah meninggi dan proses pengurugan selesai, kemudian di atas tanah itu ditaburi bunga tujuh rupa. Sementara di sekelilingnya berjejer peralatan dapur tradisional.

“Ritual ini akan dilakukan Mbah Pani selama lima hari kedepan,” terangnya.

Selama berada dalam tanah, keluarga akan menemani Mbah Pani di atas tempat ritualnya. Selama itu pula, keluarga juga akan melakukan puasa sunah dan melantunkan berbagai doa agar Mbah Pani diberikan keselamatan.

“Keluarga tetap membantu doa agar semuanya berjalan lancar,” ujarnya.

Baca juga:

Dari pengamatan di lokasi, pada posisi atas liang yang digunakan untuk tapa memang terdapat lubang yang terbuat dari paralon. Lubang ini sebagai sarana masuknya udara ke dalam liang.

Lubang itu juga sudah dipasangi semacam tali penghubung ke Mbah Pani. Dan tali itu juga yang nantinya untuk mengecek kondisi Mbah Pani.

“Selama 24 jam, keluarga secara bergantian akan menunggui Mbah Pani. Kalau ingin mengecek kondisi, harus pada jam ganjil. Kalau saat jam genap tidak boleh. Cara mengeceknya melalui tali yang ada di dalam lubang itu tadi,” jelasnya.

Pada Jumat (20/9/2019) petang mendatang, ritual Mbah Pani akan selesai dan gundukan tanah akan dibongkar. Keluarga berharap Mbah Pani baik-baik saja.

 

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoh

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.