Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sebelum Jalani Tapa Pendem Mbah Pani Puasa 40 Hari

0 17.649

MURIANEWS.com, Pati- Ritual tapa pendem atau pasa ngeluwang yang akan dijalankan Mbah Supani (63) warga Desa Bendar RT 03 RT 01, Kecamatan Juwana, Pati, Senin (16/9/2019) malam nanti, mempunyai tahapan yang harus dilalui. Ada beberapa syarat yang harus diupayakan terlebih dahulu, sebelum ritual ini bisa dilakukan.

Salah satunya yakni puasa selama 40 hari, serta berbagai macam persiapan yang harus dilakukan. Bahkan jika ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi, bisa dikatakan tapa tersebut gagal.

Hal itulah yang saat ini berusaha dilakukan oleh Mbah Supani atau biasa dipanggil Mbah Pani. Ia menyebut telah menjalankan puasa 40 hari tanpa memakan nasi. Dan nanti malam adalah puncak ritual yang harus dilakukan.

Keluarga Mbah Pani, Suyono mengatakan, syarat yang pertama adalah puasa selama 40 hari. Kalau puasa sudah selesai, maka tahap selanjutnya adalah tapa pendem.

Menurut dia, dalam tapa pendem sendiri ada berbagai hal yang harus disiapkan. Pertama adalah liang kubur yang lokasinya tidak boleh diubah, mulai dari awal pertapaan hingga ke 10 kali.

“Dari tapa pendem pertama sampai 10 kali ini, lokasinya harus sama. Tidak ada perubahan,” katanya, Senin (16/9/2019).

Lokasi tapa Mbah Pani sendiri ada di ruang tengah rumahnya. Posisinya lurus dengan pintu masuk rumah. Kedalamannya tiga meter.

Dalam liang yang sudah disiapkan itu, terlihat terdapat air yang menggenang. Air tersebut merupakan rembesan dari sumber. Nantinya saat Mbah Pani sudah melakukan ritual tapa di dalam liang itu, air tersebut akan disedot tiap tiga jam sekali agar liang tetap kering.

Dalam menjalankan tapa pendem ini, Mbah Pani akan dikafani seperti mayat. Pihaknya juga telah menyiapkan minyak ”kerah macan” untuk ditaburkan pada kafan. Lalu kendil mulai dari ukuran yang paling kecil hingga yang paling besar.

Baca juga:

Layaknya sebuah pemakaman, dalam prosesi itu juga ada nisan yang dibungkus kain kafan. Ada juga beberapa kelapa muda sebagai pelengkap ubo rampe.

Ketika ditanya terkait hasilnya selama ini, Suyono mengaku tidak mengetahui secara pasti. Hanya saja, setelah Mbah Pani melakukan ritual itu, ada banyak orang yang datang ke rumahnya.

“Seperti ada majelis gitu. Kalau tujuan pastinya, saya sendiri kurang tau,” pungkasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.