Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ganjar Sebut Ada Tujuh Kepala Sekolah Negeri di Jateng Terpapar Radikalisme

0 763

MURIANEWS.com, Salatiga – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut ada sejumlah kepala sekolah di SMA/SMK/SMLB negeri di provinsi ini yang terindikasi masuk jaringan radikalisme. Temuan terbaru ada tujuh kepala sekolah.

Ketujuh kepsek yang terindikasi radikal itu menurut Ganjar, kini tengah dilakukan pembinaan.

“Kalau tidak mau dibina ya diambil tindakan tegas. Saat ini tengah kami bina supaya bisa kembali ke jalan yang benar,” kata Ganjar.

Menurut laporan yang diterimanya dari banyak tokoh agama dan masyarakat, saat ini sedang masif dilakukan penanaman paham radikalisme di sekolah-sekolah.

Beberapa laporan yang masuk lanjut dia, isu radikalisme diberikan melalui mata pelajaran dan juga kegiatan ekstrakulikuler.

Oleh karenanya menurut dia, lembaga pendidikan menjadi tempat yang harus segera dibereskan mengenai idiologi.

“Sekolah memang yang akan kami bereskan secepatnya. Setelah sekolah adalah pemerintahan. Dua hal ini yang menjadi fokus saya. Maka saya mengajak ayo semua organisasi keagamaan untuk bareng-bareng meluruskan idiologi bangsa ini,” ujarnya.

Ganjar pun meminta masyarakat untuk berpartisipasi aktif memantau radikalisme. Apabila ada hal yang mencurigakan atau penyebaran paham radikalisme, harus segera melaporkan.

“Silahkan laporkan ke kami, biar kami pemerintah yang urus. Partisipasi masyarakat dibutuhkan, karena itu bagian dari kepedulian pada bangsa dan negara,” terangnya.

Pernyataan tentang dugaan kepala sekolah ASN yang terindikasi radikal itu juga disampaikan dalam Halaqoh Kyai Santri Tentang Pencegahan Terorisme di Hotel Grand Wahid Salatiga, Sabtu (14/9/2019) lalu.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang hadir dalam kegiatan itu juga menyoroti tentang masifnya penyebaran radikalisme di lingkungan sekolah.

“Bahkan ada survei dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta yang cukup mengerikan. Tidak sedikit anak yang disurvei sepakat bahwa orang murtad boleh dibunuh,” terangnya.

Tak hanya kalangan siswa, sejumlah guru dan dosen lanjut Khofifah juga menjadi objek survey. Dan hasilnya, banyak guru dan dosen yang memiliki paham radikal.

“Survei tersebut menunjukkan tingginya intoleransi di Indonesia. Untuk itu saya mengajak mas Ganjar agar Jateng dan Jatim sering bertemu dan duduk bersama menyelesaikan persoalan-persoalan intoleransi,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.