Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Nikmati Akhir Pekan dengan Camping di Danau Terpus, Ranu Kumbolonya Pati

MURIANEWS.com, Pati – Setelah sibuk dengan rutinitas harian yang menguras tenaga dan pikiran, camping adalah salah satu cara agar hidup kembali bersemangat. Apalagi kalau lokasi berkemahnya berada di ketinggian yang lengkap dengan panorama alam dari danau yang asri.

Ditambah lagi dengan pancaran sinar mentari yang memantul dari hamparan air dan memandangi cakrawala biru, tentu akan semakin menakjubkan.

Senasasi itu bisa didapatkan di Danau Terpus yang ada di Desa Beketel, Kecamatan Kayen, Pati. Danau yang dibangun pada 1982 lalu itu, sangat tepat untuk wisata berkemah. Bagaimana tidak, selain lokasinya yang dekat, suasana alam di sekitar juga sangat mendukung.

Salah seorang yang beberapa hari lalu camping di Danau Terpus, Imam Azizi mengakui keindahan danau itu mirip dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru.

Bukan tanpa alasan memang. Lokasi danau ini berada di ketinggian Pegunungan Kendeng utara, sehingga nuansa yang didapatkan hampir sama dengan Ranu Kumbolo.

“Danau ini masih sangat asri. Lokasinya dari perkotaan juga tidak terlalu jauh. Tempat camping nyaman dan yang pasti suasananya menyejukkan,” kata Imam.

Sekelompok pemuda menghabiskan waktu dengan berkemah di Danau Terpus, Pati. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Dia menyebut, saat paling indah adalah menjelang matahari tenggelam. Sambil menunggu senja tiba, para pengunjung bisa menghabiskan waktu dengan mancing di danau itu. Sebab, setiap tahunnya pihak desa telah mengisi danau dengan ribuan bibit ikan.

Pada saat malam, api unggun menjadi teman setia untuk menghangatkan badan dari terpaan semilir angin. Sebagai camilan, ia pun menyarankan jagung dan ketela pohon yang dibakar langsung di pinggir danau.

“Kalau malam suhunya agak dingin, tapi kalau sudah ada api unggun bisa menghangatkan badan. Bisa juga untuk bakar jagung maupun ketela. Nanti dimakan sambil bercengkrama dengan teman-teman,” ungkapnya.

Suasana akan semakin dingin ketika jarum jam sudah mengarah pada angka 01.00 WIB. perlengkapan tidur seperti matras, jaket dan slepping bags harus digunakan. Ditemani dengan cahaya purnama, tidur pun pulas.

Fajar tiba. Ayam yang berada di perkampungan mulai berkokok dan suara azan bersahutan dari masjid dan musala. Saatnya untuk beranjak dari tenda dan menunggu terbitnya sang surya.

“Meski berada di tengah perbukitan, namun pancaran matahari terbit, tetap memesona,” sahutnya.

Baca: Seindah Ranu Kumbolo, Sayang Pengembangan Danau Terpus Pati Terkendala Dana

Matahari belum sepenuhnya muncul, namun aktivitas warga sudah mulai kelihatan. Petani yang membawa cangkul. Ada juga pemancing yang sudah siap menenggelamkan kailnya untuk memancing ikan.

“Matahari sudah meninggi, kami langsung berkemas untuk persiapan pulang. Tapi ingat, jangan sampai ada sampah yang tertinggal. Awalnya bersih, pulang juga harus bersih,” pesan Imam.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...