Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Detik-detik Pembunuhan Satu Keluarga di Banyumas karena Warisan

0 3.559

MURIANEWS.com, Banyumas – Penemuan empat kerangka di belakang rumah Misem (76) di Desa Pasinggangan RT 07 Rw 03, Banyumas, Sabtu (24/8/2019) lalu membuat geger. Terlebih belakangan diketahui jika keempat kerangka itu merupakan satu keluarga dan korban pembunuhan.

Keempat kerangka tersebut merupakan keluarga Misem (76). Yakni Supratno (51) yang merupakan anak pertama Misem, Sugiono (46) anak kedua Misem, Heri (41) anak kelima Misem, dan Vivin (21) anak dari Supratno.

Mereka dibunuh pada 9 Oktober 2014 dan kerangka keempat korban baru ditemukan 24 Agustus lalu. Pelaku pembunuhan ternyata masih keluarga.

Empat tersangka berhasil ditangkap Polres Banyumas. Dan dari hasil penyelidikan motif pembunuhan yakni dendam karena tanah warisan.

Keempat tersangka yang terdiri atas Saminah (52) beserta tiga anaknya, yakni Irfan (32), Putra (27), dan Saniah (37). Tersangka Saminah merupakan anak kedua dari Misem. Rabu (28/8/2019) hari ini, polisi melakukan prarekronstruksi kasus ini di rumah Misem (76), yang merupakan ibu atau nenek dari keempat tersangka maupun keempat korban.

“Pembunuhan terhadap empat korban tersebut terjadi pada tanggal 9 Oktober 2014 dan dilakukan oleh tetangga Bu Misem yang juga anak kedua Bu Misem, yaitu keluarga Bu Saminah,” kata Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun dilansir Antara.

Menurut dia, untuk melancarkan aksinya Saminah membawa ibunnya pergi supaya rumahnya kosong, dan anak-anaknya bisa dihabisi. Kapolres mengatakan, Misem dibawa ke rumah Saminah dengan alasan untuk dirawat karena kondisinya saat itu sedang tidak sehat.

Dua anak laki-laki Saminah, yakni Irfan dan Putra kemudian masuk ke dalam rumah neneknya (rumah Misem, red.). Mereka menemukan pamannya atas nama Sugiono sedang mandi, dan ketika keluar dari kamar mandi langsung dipukul menggunakan besi bekas dongkrak oleh Irfan.

Tak hanya itu, Putra juga ikut memukul pamannya itu menggunakan tabung elpiji 3 kg hingga meninggal dunia. Jenazahnya dibawa ke salah satu kamar di rumah Misem.

Irfan dan Putra selanjutnya menunggu kedatangan penghuni rumah Misem lainnya. Hingga akhirnya datanglah korban kedua, yakni Supratno yang baru pulang dari tempat kerja.

Sesampainya di rumah, Supratno yang merupakan PNS langsung dibunuh oleh kedua tersangka dengan cara dipukul menggunakan besi dan tabung elpiji. Jenazah Supratno juga dibawa ke dalam kamar dan ditumpuk di atas jenazah Sugiono.

“Tidak lama kemudian, datanglah saudara Heri yang merupakan putra bungsu atau putra kelima Bu Misem. Begitu datang, masuk ruang tengah, saudara Heri langsung dipukul dari belakang oleh kedua tersangka hingga meninggal dunia dan selanjutnya dimasukkan ke dalam kamar, lalu ditumpuk dengan korban lainnya,” papar Kapolres, menjelaskan.

Kendati tiga orang tersebut merupakan target utama, kata dia, kedua tersangka tahu jika tidak lama lagi akan datang sepupu mereka, yakni Vivin, yang merupakan putri dari korban atas nama Supratno dan tercatat sebagai mahasiswi IAIN Purwokerto.

Saat tahu Vivin akan datang, kedua tersangka mencoba mengirim pesan singkat melalui telepon seluler milik Supratno supaya tidak pulang agar tidak menjadi korban kembali.

Akan tetapi ternyata pesan singkat itu tidak dibalas karena Vivin sudah sampai di rumah Misem hingga akhirnya turut dibunuh oleh Irfan dan Putra. “Keempat korban selanjutnya dikubur di belakang rumah Misem pada malam hari,” ungkapnya.

 

Tersangka Disoraki Warga

Setelah kejadian tersebut, kata dia, Misem dilarang pulang ke rumahnya selama hampir satu bulan. Dan selama itu pula Irfan beserta Putra selalu membersihkan rumah Misem yang berjarak sekitar 5 meter dari rumahnya.

Ia mengatakan pascakejadian tersebut, beberapa tetangga sering kali datang untuk menanyakan keberadaan para korban tetapi disampaikan bahwa mereka pergi merantau.

Rabu (28/8/2019) hari ini, polisi menggelar prarekontruksi kasus ini untuk mengetahui secara detil detik-detik serta bagaimana aksi pembunuhan itu dilakukan.

Dalam prarekrontruksi, polisi menghadirkan empat tersangka. Saat keempat tersangka tiba di TKP atau lokasi prarekonstruksi, warga yang berada di luar garis polisi langsung menyoraki mereka. Polisi langsung bergerak menenangkan warga.

Ratusan warga memang memadati sekeliling tempat kejadian perkara (TKP) yang dijadikan sebagai lokasi prarekonstruksi. Mereka penasaran terhadap kasus pembunuhan tersebut.

Mantan Ketua RT 07 RW 03 Desa Pasinggangan, Sihat mengatakan sejak Selasa (27/8/2019) malam, rumah Misem ramai didatangi warga.

“Mereka mengira prarekonstruksi tersebut digelar tadi malam. Makanya, istri saya diungsikan dulu karena dia lemah jantung,” kata dia yang rumahnya tidak jauh dari rumah Misem.

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha
Sumber: Antara

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.