Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sebabkan Polusi, Pengerukan Sawah di Desa Karangrowo Kudus Dihentikan Paksa

0 220

MURIANEWS.com, Kudus – Kerap diprotes warga, usaha pengerukan sawah dan tanggul Sungai Juwana dengan alat berat di Desa Karangrowo, Undaan dihentikan paksa. Pemberhentian dilakukan oleh Muspika Undaan, jajaran Polsek, dan Koramil Undaan, Rabu (14/8/2019) siang.

Alasan pemberhentian adalah terkait adanya polusi debu yang disebabkan oleh truk yang lalu lalang di seputaran desa. Lalu lalangnya truk pengangkut material tanah padas juga dikhawatirkan bisa membuat jalan desa rusak.

Kapolsek Undaan AKP Anwar mengatakan, sebelumnya pihaknya menerima laporan warga yang keberatan dengan pengerukan tersebut. Kebanyakan dari mereka mengeluh karena polusi yang ditimbulkan tiap harinya sudah melebihi batas wajar.

Tanaman palawija milik warga juga dilaporkan terancam gagal panen karena tertutup debu tebal dari pasir padas. Belum saluran irigrasi yang bisa saja rusak karena tiap hari dibuat lalu lalang puluhan truk pengangkut tanah padas.

“Kami kemudian bersama unsur Muspika mengecek lokasi,” ucap Anwar, Rabu (14/8/2019) siang.

Usut punya usut, pengerukan sawah telah dijadikan orientasi bisnis oleh sejumlah oknum. Tanah padas yang dikeruk dari areal persawahan diketahui akan dijual ke luar daerah. Hal tersebutlah yang menjadi polemik selanjutnya.

“Sudah dicemari malah dijual ke luar daerah. Akhirnya masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani memprotes hal tersebut,” lanjutnya.

Anwar menjelaskan, pengerukan tanah persawahan sebenarnya diperbolehkan. Sepanjang  pemanfaatannya digunakan untuk pembangunan infrastruktur desa. Dan tentunya sudah mengantongi izin resmi.

“Penjualan tanah padas ke luar daerah tidak diperbolehkan, apalagi ilegal,” terangnya.

Untuk sementara, pihaknya akan menutup usaha pengerukan. Pengumpulan segenap unsur terkait untuk diberitahu duduk permasalahannya juga disarankan segera dilakukan oleh pihak desa ataupun pelaku proyek.

“Sementara berhenti dahulu, biar mereka menyelesaikannya secara musyawarah dan menghasilkan mufakat,” tandasnya.

Sementara Kepala Desa Karangrowo Heri Darwanto menegaskan, pengerukan lahan sepanjang berizin dan tidak merugikan warga setempat sebenarnya tidak masalah. Hanya karena kerukan tanah dijual ke luar desa, itu yang akhirnya menimbulkan keberatan warga.

“Saya sudah tutup akses menuju luar desa, tetapi tetap saja dilanggar,” tegasnya.

Heru berharap ada solusi untuk masalah ini. Terlebih beberapa gapoktan sudah mulai geram karena lahan pertaniannya berdebu parah dan berimbas pada panen nantinya. Tanaman gambas, cabai, jagung, dan pepaya sepanjang jalan di tepian sawah pun rusak dan terancam mati.

“Padahal dari panen gambas menghasilkan pemasukan hingga Rp 300 ribu per hari,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

HUT ke-293 Grobogan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.