Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

UMK Ciptakan Alat Pembelah Bambu untuk Perajin Mainan Anak di Jepara

MURIANEWS.com, Kudus – Universitas Muria Kudus (UMK) terus melakukan inovasi. Terbaru UMK menciptkan mesin serut dan belah bambu. Alat itu digunakan untuk membantu warga Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara.

Di desa tersebut banyak yang memiliki usaha kecil beruapa pembuatan mainan anak tradisonal yang berbahan utama dari bambu. Hanya mayoritas masyarakat belum memiliki alat tersebut.

Ketua Tim Program Pengabdian Unggulan Daerah (TPPUD) Imaniar Purbasari mengatakan, bantuan kepada pelaku UMKM berbentuk mesin, tentunya sesuai dengan kebutuhan perajin tersebut.

“Karena mesin serut dan belah bambu belum ada, akhirnya kita buatkan, kita menciptakan alatnya,” katanya, Jumat (9/8/2019).

Ia mengatakan, setelah dilakukan penelitian sebelumnya, akhirnya pihaknya baru bisa menentukan mesin apa yang dibutuhkan perajin setempat. Akhirnya dibuatlah alat belah dan serut bambu yang memang sangat diperlukan pelakukan UMKM yang membuat mainan anak tradisional.

“Alat yang dibuat bisa memudahkan pengrajin mainan, sehingga proses belah dan serut bambu yang dilakukan manual, bisa menggunakan mesin. Sehingga tingkat produksi bisa meningkat karena lebih cepat. Ukuran bambu juga bisa konsisten, tinggal setting alatnya,” terangnya.

Tak hanya memberikan bantuan berupa alat tersebut. UMK juga melakukan pelatihan kepada paguyuban perajin mainan tradisional tersebut. Salah satunya melatih agar motif mainan dibuat yang kekinian, seperti dengan karakter-karakter anak kekinian, terutama kartun anak.

UMK saat menyerahkan bantuan mesin serut dan dan belah bambu kepada warga Desa Karanganyar Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara. (MURIANEWS.com/Humas UMK).

“Karena sebelumnya, seperti mainan ‘kitiran’ hanya berupa warna saja tanpa ada karakter kartun yang disukai anak-anak. Dengan penambahan karajter tersebut tentunya bisa lebih menarik anak. Endingnya tentu kepada bertambahnya keuntungan perajin,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta perajin untuk mengganti bahan pewarna untuk mainan anak yang lebih ramah anak. Karena selama ini ternyata menggunakan pewarna tekstil, saat ini sudah diganti pewarna yang tidak membahayakan anak.

Ditambahkan dia, kegiatan pengabdian ini berlangsung tiga tahun. Tahun pertama lebih focus kepada pengembangan produk, termasuk menambah model, menggunakan karakter kekinian hingga penggunaan bahan ramah anak.

Untuk tahun kedua yakni pembuatan alat untuk membantu mempermudah produksi, setelah dilakukan riset akhirnya alat sudah jadi dan sudah diserahkan.

“Tentu alat tersebut nantinya tetap dilakukan pemantauan, karena bisa saja akan dikembangkan lagi. Tahun ini juga ada penerbitan buku wisata Desa Karanganyar,” imbuhnya.

Serta tahun ketiga pihaknya baru akan focus pelatihan pemasarannya, sehingga pemasaran tidak dilakukan secara manual. Melainkan juga bisa memanfaatkan pemasaran online. Pemasaran dilakukan diakhir, karena pihaknya memang fokus meningkatkan kualitas produk mainan terlebih dahulu.

Mainan tradisional di Desa Karanganyar, berupa kitiran, sorongan dan lele-lelean yang bentuknya sangat sederhana. Bahan bakunya dari lingkungan sekitar ataupun barang bekas, sehaingga biaya produksi yang relatif murah. Permainan tradisional merupakan kekayaan khasanah budaya lokal, yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran pendidikan berkarakter bangsa.

Sementara itu, Ketua Kelompok Mekar Jaya Sumarno mengatakan, kegiatan pengabdian yang dilakukan dosen UMK sangat bagus dan bermanfaat bagi UMKM di Desa Karanganyar. Karena ada teknologi atau alat baru yang ternyata bisa dibuat, selama ini kami amsih manual.

“Sehingga dengan alat tersebut bisa meningkatkan produksi dan kualitas produk. Selain itu pihaknya juga memiliki wawasan baru dalam pengembangan produk, karena selama ini masih sangat standar, belum ada inovasi yang menyesuaikan zaman,” tambahnya.

 

Reporter: Dian Utoro Aji
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...