Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kemarau Bikin Petani Jepara Hadapi Pilihan Sulit

0 63

MURIANEWS.com, Jepara – Kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Jepara, membuat para petani menghadapi pilihan sulit. Mereka harus mengeluarkan modal besar jika ingin tetap menggarap sawah. Atau, mengganggur di rumah menunggu hujan datang lagi.

Situasi ini sudah terjadi di beberapa wilayah yang tidak memiliki jaringan pengairan memadai. Memasuki Musim Tanam (MT) Ke-3 tahun 2019, ada beberapa wilayah yang bahkan sama sekali tidak bisa dilakukan penanaman lagi. Air sudah habis sama sekali, atau jika masih ada jumlahnya tidak menjamin apakah mencukupi atau tidak.

Di sekitaran Desa Batu Kali, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, sebagian besar areal sawah yang ada merupakan tipikal tadah hujan.

Setelah masuk kemarau, air di kawasan ini sudah tidak mencukupi untuk menanam padi. Menanam jenis palawija merupakan alternatif, namun harus membutuhkan biaya lebih mahal.

Nur Hamid (45), petani Desa Batu Kali, mengaku akan menanam palawija jenis jagung. Namun pilihan ini bukan tanpa risiko. Menanam jagung juga membutuhkan air.

Saat ini dirinya belum bisa memastikan, apakah ketersediaan air masih mencukupi kebutuhan tanaman jagungnya nanti.

Untuk mengolah sawah setengah hektare miliknya, Nur Hamid mengaku membutuhkan biaya yang tinggi untuk urusan pengairan. Untuk bisa mendapatkan air cukup, dirinya harus menggunakan mesin pompa air selama empat hari penuh. Biaya BBM solarnya, sudah pasti lumayan membuat kosong kantongnya.

“Saya harus nyedot air untuk mengolah tanah saat awal penanaman. Pakai mesin pompa dari sumur bor. Biaya solarnya Rp 400 ribu semalam. Kalau empat hari tinggal dikalikan saja. Terus masih harus bayar penjaga mesin Rp 25 ribu semalam. Kalau enggak dijaga bisa diggondol maling mesinnya,” ujar Nur Hamid, Kamis (8/8/2019).

Di Batu Kali, tidak semua petani berani berspekulasi seperti Nur Hamid. Sebagian besar bahkan memilih untuk menganggur.

Menanam jagung dengan biaya mahal, hasilnya kadang-kadang juga tidak sesuai harapan. Kalau berhasil untungnya juga dianggap tidak cucuk. Menganggur jadi pilihan bagi yang tidak suka berspekulasi.

Situasi yang sama juga dialami para petani di Desa Teluk Wetan, Welahan, Jepara. Kesowo (50), petani Desa Teluk wetan, juga mengaku jika sawahnya hanya bisa dilakukan tanam padi hanya dua kali dalam setahun.

Pada musim kemarau masyarakat di Teluk Wetan, biasanya memilih menaman jagung. Ada banyak sumur boor yang saat ini tersedia di kawasan persawahan dan para petani tinggal menyedotnya. Meski demikian, jelas ada biaya tambahan untuk menggunakan mesin sedot air.

“Tentu saja biayanya ya lumayan. Tapi mau bagaimana lagi, soalnya memang situasinya seperti itu,” ujar Kesowo.

Air dibutuhkan pada saat pengolahan pertama. Kemudian tiap sepuluh hari sekali mulai benih belum tumbuh sampai tumbuh dan kuat.

Agar tidak layu, juga perlu disiram pada saat jagung sudah berbunga, hingga saat panen tiba. Jika hasil bagus, tiap hektare akan menghasilkan sekitar Rp 20 juta.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.