Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Keris Pusaka Pati Diarak, Ada Makna Filosofis dari Kirab Boyongan Hari Ini

0 496

MURIANEWS.com, Pati – Ribuan warga Kabupaten Pati berjubel memadati trotoar di sepanjang jalan mulai dari Pendapa Pesantenan Kemiri di Desa Sarirejo, Pati hingga Pendapa Kabupaten Pati, Rabu (7/8/2019). Meski dalam suasana terik, mereka tetap antusias menantikan prosesi kirab boyongan untuk memeringati Hari Jadi ke-696 Kabupaten Pati itu.

Terlebih kirab boyongan ini tidak dilakukan setiap tahun, namun hanya lima tahun sekali. Alhasil, pelaksanaanya pun dilakukan secara meriah.

Dalam kirab ini, pusaka milik Kabupaten Pati yakni Keris Rambut Pinutung dan Keluk Kanigara diarak menggunakan tandu khusus. Bupati Pati Haryanto beserta Wakilnya Saiful Arifin mengikuti dua pusaka ini dari pendapa lama di Kemiri ke pendapa baru di Kaborongan.

Proses ini menandakan boyongan atau pindahan pusat pemerintahan Kabupaten Pati dari Kemiri ke tempat saat ini, ratusan tahun lalu. Proses perpindahan pusat pemerintahan inilah yang diabadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Pati.

Bupati Haryanto dan istri beserta Wakil Bupati Saiful Arifin mengikuti kirab boyongan dari Pendapa Kemiri ke Pendapa Kabupaten Pati. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Salah satu warga, Maysaroh (24) mengaku datang mulai pukul 11.00 WIB. Itu dia lakukan agar dapat menyaksikan prosesi kirab yang dinilai mempunyai makna panjang.

“Dari ceritanya, kirab boyongan ini kan dilakukan lima tahun sekali. Karena itu, saya tidak mau ketinggalan untuk menyaksikan momen penting ini,” tuturnya.

Ketika ditanya sekilas tentang sejarah Hari Jadi Pati, dirinya mengaku tidak mengetahui. Hanya saja, setiap kali ada peringatan Hari Jadi Pati, dirinya tidak pernah ketinggalan untuk menyaksikan kirab.

“Inginnya sih mengetahui sejarah berdirinya Pati, tapi cari bukunya susah. Paling sekilas cerita tutur dari orang tua,” ujarnya.

Sementara itu, Kabag Humas Setda Pati Ahmadi mengatakan, prosesi kirab boyongan ini mengandung muatan filosofis mengenai sejarah terbentuknya Kabupaten Pati.

“Pati memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang lebih tua dibandingkan Solo dan Yogyakarta. Ini jelas tidak terbantahkan lagi jika kita menilik cerita Babad Tanah Jawa itu sendiri. Ini yang kita sampaikan pada masyarakat melalui ritual kirab boyongan,” ungkapnya.

Sehingga, karena pentingnya filosofi itu, warga sebelumnya diminta untuk datang dan menyaksikan kirab boyongan tersebut agar mengetahui sejarahnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.