Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Perang Obor Tegal Sambi, Hamburkan Serpihan Bara Api

0 57

MURIANEWS.com, Jepara- Salah satu even budaya paling menarik di Jepara, digelar pada Senin (5/8/2019) malam. Desa Tegal Sambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, menjadi pusat perhatian ribuan orang dari segala penjuru.

Di desa ini, sebuah tradisi menahun kembali digelar setelah setahun. Tradisi Perang Obor, demikian mereka menyebut tradisi itu. Mempertontonkan puluhan orang saling berhadapan untuk saling baku pukul menggunakan pilinan besar klaras (daun pisang kering) tersulut api.

Diawali dari kediaman Petinggi Desa Tegal Sambi Agus Santoso, sejumlah laki-laki berjalan beriringan menuju perempatan jalan desa. Mereka sudah membawa pilinan klaras dalam ukuran besar.

Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparta) Jepara, Zamroni Liztiaza malam itu mendapatkan kesempatan istimewa. Sebagai petinggi kabupaten yang hadir, dia didaulat untuk menyulut untuk pertama kali pilinan klaras yang akan menjadi biang bagi terjadinya ‘perang obor’.

Tradisi Perang Obor di Desa Tegal Sambi, menyedot perhatian ribuan orang dari berbagai daerah. (MURIANEWS.com/Budi Erje)

Perang Obor sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Desa Tegal Sambi. Menurut Agus Santoso, Petinggi Desa Tegal Sambi, tradisi ini dituturkan melalui legenda Kyai Babadan dan Mbah Gemblong. Dua nama ini diyakini sebagai bagian dari leluhur mereka.

Konon, dua tokoh ini sempat terlibat perseteruan di masa silam, gara-gara berjangkitnya penyakit yang mendera ternak-ternak mereka. Dengan menggunakan obor keduanya berkelahi. Ajaibnya, setelah mereka berkelahi ternak-ternak yang sakit malah sembuh. Akhirnya mereka berdamai dan meneruskan kabar ini kepada anak keturunannya hingga saat ini.

“Jadilah tradisi ini terus dipegang teguh oleh masyarakat Desa Tegal Sambi. Kami meyakini ada banyak hal yang bisa kami petik dari tradisi yang kami lakukan ini,” ujar Agus Santoso, Senin (5/8/2019) malam.

Tampaknya memang benar adanya apa yang disampaikan oleh Agus Santoso. Tradisi ini setidaknya memberikan sebuah keramaian bagi masyarakat. Ribuan orang berdesakan, dan itu berarti ada perekonomian yang ikut berderak jalan.

Sebab ada puluhan orang bisa menjajakan makanan. Lainya juga bisa membuka parkir dan penitipan kendaraan. Paling tidak tradisi ini masih sanggup memberikan manfaat bagi masyarakat.

Perang Obor Tegal Sambi edisi 2019 sendiri menampilkan 40 orang ‘prajurit api’. Mereka saling baku pukul menggunakan obor rakasasa mereka.

Kelebatan api yang beradu dan menimbulkan percikan bara api yang berterbangan, beriringan dengan sorak sorai para penonton dan prajurit api. Inilah atraksi menakjubkan yang dihadirkan dalam tradisi ini.

Luka bakar sudah tentu harus dialami oleh para prajurit atau penonton yang lagi ‘sial’ terkena percikan.

Namun seperti halnya tradisi lain, Desa Tegal Sambi memiliki penangkal khusus untuk luka bakar ini. Cairan minyak yang sebelumnya sudah dipersiapkan, ada di rumah Petinggi Desa.

Melalui tangan Petinggi Desa ramuan tersebut hanya perlu diusapkan ke bagian yang terkena api. Maka dalam hitungan menit panas dari api tersebut langsung sirna.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.