Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Gubernur Ganjar Minta Jangan Kucilkan Anak Penderita HIV/AIDS

MURIANEWS.com, Solo – Jumlah anak dengan HIV/AIDS (ADHA) di Provinsi Jateng cukup banyak, mencapai 308 anak. Dengan jumlah ini menempatkan Jateng pada urutan ke empat jumlah ADHA terbanyak di Indonesia.

Berdasarkan data di Kementerian Kesehatan pada urutan pertama ada Papua dengan 536 anak, kemudian Jatim 421 anak, Jabar 320 anak, Jateng 308 anak dan DKI Jakarta 304 anak.

Meski demikian, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta masyarakat untuk tak mengucilkan anak penderita HIV/AIDS. Terlebih anak-anak tersebut mendapat penyakit itu, bukan karena kesalahan mereka.

Ia menyebut, negara dan pemerintah hadir untuk menjamin pengobatan anak-anak ini. Meski demikian, warga dan lingkungan sekitar harus memberi dukungan dengan tak mengucilkan.

“Kita harus memastikan ADHA bisa bergaul dengan teman-temannya. Sehingga, mereka tetap memiliki teman, tidak diasingkan dan secara psikologis mereka merasa ada. Tinggal dokter, orang tua dan pemerintah menjelaskan pada anak-anak untuk tidak menjauhi mereka,” katanya.

Usai mengikuti perayaan Hari Anak Nasional, Selasa (23/7/2019) sore, Ganjar mengunjungi Yayasan Lentera, Surakarta. Di tempat ini ada 14 ADHA yang ditampung.

Mereka mulai dari umur 4 bulan hingga belasan tahun. Para ADHA ini yatim piatu. Mereka tinggal di yayasan ini karena diabaikan atau ditolak oleh keluarganya.

Selain ADHA, ada pula 20 orang pengidap lain yang mempunyai permasalahan yang sama tinggal di sini. Ganjar merasa prihatin dengan kondisi ini.

Oleh karenanya, ketika datang Ganjar langsung mengajak anak-anak tersebut bermain. Ganjar membawa bola dan dibagikan kepada mereka. Anak-anak itu pun berebut dan bermain dengan riang.

“Beberapa hari ini orang-orang bercerita tentang anak pengidap HIV/AIDS. Ternyata temen-temen di sini (Yayasan Lentera) mengelola dengan sangat baik. Saya dadakan saja ke sini karena tadi habis perayaan Hari Anak Nasional terus ke Solo dan langsung mampir ke sini,” kata Ganjar.

Ganjar mengatakan, sama seperti anak pada umumnya, para ADHA ini juga memiliki hak yang sama untuk melanjutkan hidup. Mereka menurut dia, bisa disiapkan untuk masa depan yang lebih mandiri.

“Soal umur hanya Tuhan yang tahu, tapi manusia membantu anak-anak yang punya semangat luar biasa,” ujarnya.

Anak-anak yang sebagian besar yatim piatu ini, kata Ganjar, ternyata memiliki semangat dan keberanian yang besar seperti anak-anak lainnya. Bahkan Ganjar juga menyaksikan bagaimana mereka bisa bercanda ria dengan orang-orang asing termasuk dirinya.

“Tidak takut sama orang dan biasa dengan mahasiswa-mahasiswa asing yang saat ini jadi volunteer. Mereka bisa langsung bergaul,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan salah satu pendiri Yayasan Lentera, Yunus Prasetyo. Ia menyebut, untuk mendapatkan pendidikan anak-anak ini tak bermasalah.

Hanya saja menurut dia, pandangan masyarakat terhadap ADHA memang harus diubah, agar tidak menjauhi apalagi menolaknya.

“Untuk pendidikan tidak ada persoalan, penerimaan yang bagus bisa inklusif masuk ke sekolah biasa. Ini bagian pendidikan untuk masyarakat yang lain agar memahami mereka. Secara medis bisa dijelaskan,” terangnya.

Pemprov Jateng juga dinilainya telah berkontribusi besar. Di antaranya dengan bantuan medis yang disediakan RS Moewardi berupa pemberian obat secara gratis.

Meski demikian Yunus mengatakan untuk sarana dan prasarana Yayasan Lentera masih kekurangan. Terlebih anggaran yang dia miliki hanya cukup untuk operasional.

“Sebagian besar anggaran kami habis untuk operasional dan permakanan. Sementara ini yang kami butuhkan adalah mainan anak-anak. Tadi Pak Gubernur menjanjikan akan mengirim alat musik,” katanya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...