MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Diberi Hadiah Cuma-Cuma Ganjar Pilih Bayar, Ternyata Ini Alasannya

0 55

MURIANEWS.com, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sering mendapat hadiah baik dari warga maupun orang yang ngefans dengannya. Namun Ganjar sering menolak, jikapun diterima Ganjar lebih memilih untuk membelinya.

Yang terbaru, Ganjar hendak diberi kaus secara cuma-cuma oleh pegiat angkutan umum Jeffry Yohanes Francisco (32). Kaus yang akan diberikannya adalah kaus bagi para pecinta bus (bus mania).

Nakun Ganjar menolak diberi secara cuma-cuma. Ia lebih memilih membelinya, meski itu hanya sebuah kaus.

Ternyata, Ganjar punya alasan kuat tentang hal ini. Segala pemberian dari orang kepada dirinya bisa dianggap gratifikasi, karena Ganjar merupakan pejabat publik.

Sebelum mengerti alasan ini, Jeffry mengaku sempat bingung. Karena niat tulusnya untuk memberi kaus, justru ditolak.

“Niat saya mau kasih saja, sudah seneng kalau kaus saya dipakai Pak Ganjar, lha kok malah jadinya dibeli,” kata warga Werdomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta itu.

Jeffry bercerita. Awalnya ia melihat percakapan twitter antara Ganjar dan akun penjual sarung batik, Selasa (9/7/2019).

Iseng, Jeffry ikut nimbrung menawarkan kaus @ayonaikbis.com. Tak disangka, akun @ganjarpranowo membalas kicauannya. “Kirim kantor. Berapa harganya?”, tulis Ganjar.

“Saya kaget kok malah mau dibeli. Padahal niat saya bukan mau endorse kaus, tetapi kampanye, mengajak ayo naik bus,” ujar Jeffry saat dihubungi Rabu, (10/7/2019).

Kaus kampanye naik bus itu dibanderol Rp 105 ribu. Ganjar tetap menolak diberi meski Jeffry sudah menjelaskan maksudnya.

“Katanya Pak Ganjar, ‘Jangan, itu gratifikasi. Saya beli saja ya. Desainnya bagus kok’. Top banget. Selain menolak gratifikasi, dia juga menghargai karya orang lain,” katanya.

Tak hanya kepada Jeffry, Ganjar juga pernah menolak pemberian batik dari pengusaha batik di Purworejo bernama Diah Wahyu. Hasil goresan batik bermotif banteng miliknya pernah dibeli Ganjar seharga Rp 1,5 juta.

Padahal awalnya Diah hendak memberikan batiknya sebagai kenang-kenangan. “Batiknya sudah dikenakan saja senang banget. Apalagi ini dibeli juga. Senang bisa diendorse pak gubernur langsung,” ceritanya.

Bukan hanya pemberian bernilai ratusan ribu rupiah saja. Ganjar juga pernah menolak pemberian tanaman bonsai seharga puluhan juta rupiah dari Sarno Kosasih, Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Semarang pada Maret 2018 lalu.

Jika dirunut. Sejak menjabat Gubernur pada 2013, Ganjar konsisten menerapkan gerakan antikorupsi. Hal pertama yang ia gariskan adalah aturan penghapusan gratifikasi untuk pejabat Pemprov Jateng. Dari pemberian sehari-hari dari warga dan pengusaha hingga parsel lebaran.

Hasilnya, sejak 2015 Pemprov Jateng selalu memperoleh penghargaan dari KPK selama empat tahun bertutut-turut dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mulai dari penghargaan pengendalian gratifikasi dengan jumlah laporan gratifikasi terbanyak, pemerintah daerah dengan sistem pengendalian gratifikasi terbaik, tingkat kepatuhan LHKPN terbaik, hingga penerapan LHKPN terbaik.

“Tradisi saya adalah saya beli saja daripada kamu ngasih. Karena dari situ ada nilai-nilai antigratifikasi dan antikorupsi. Untuk mengurangi potensi suap ya kita beli saja,” kata Ganjar.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.