MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Cerita Soal Gubernur Ganjar yang Jadi Sasaran Kemarahan Orang Tua Siswa dalam PPDB

0 1.891

MURIANEWS.com, Semarang – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA di Jateng tahun 2019 yang menggunakan sistem zonasi membuat geger kalangan orang tua. Mereka rela antre sejak subuh untuk mengambil token dan begadang semalaman mendaftarkan anaknya secara online.

Tak hanya itu, beberapa orang tua siswa pun mencoba mengakali dengan menggunakan surat keterangan domisili (SKD) ataupun piagam penghargaan abal-abal. Tujuannya agar anaknya diterima masuk ke SMA negeri yang diinginkan.

Sementara orang tua yang gagal memasukkan anaknya di SMA negeri, karena terbentur zonasi dan daya tampung, mereka pun kalap. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun kerap menjadi sasaran kemarahan.

Kemarahan itu diungkapkan baik saat bertemu langsung dengan Ganjar atau melalui media sosial pribadinya. Terlebih Ganjar memang membuka aduan, baik melalui posko PPDB maupun media sosial.

“Banyak yang masuk ke akun pribadi. Ada yang DM (direct message), japri WhatsApp maupun telepon langsung,” kata Ganjar, Selasa (9/7/2019).

Ganjar Pranowo saat menerima aduan orang tua siswa di Posko PPDB. (MURIANEWS.com)

Salah satu yang wadul dan marah ke akun medsos Ganjar yakni seorang siswi dari Blora. Ganjar mengatakan saat itu dirinya tengah bersiap-siap untuk istirahat. Karena merasa aduan siswi itu urgen, Ganjar meminta nomor handphone siswi tersebut untuk dihubungi.

Namun siswi itu malah terkesan marah. Saat diberi penjelasan maksud yang diinginkan Ganjar, siswi itu memberikan nomornya.

Begitu Ganjar menelepon, siswi tersebut ternyata tidak berani menjelaskan dan diberikan pada bapaknya yang ternyata anggota TNI. Sang ayah langsung mengutarakan keinginannya.

Permintaanya jelas. Meminta Ganjar agar bisa meloloskan anaknya masuk ke SMA yang diinginkan. Meskipun SMA tersebut ternyata di luar zonasi semestinya.

Ganjar pun menjelaskan tidak punya hak memasukkan atau menitipkan siswa pada sistem PPDB ini.

“Saya saja tidak punya kuota jalur khusus. Saya persilakan untuk kembali ke zonasi masing-masing. Kalau tidak, silakan manfaatkan jalur prestasi,” katanya.

Ada juga seorang anak seorang cleaning service yang DM dan wadul ke akun medsos Ganjar. Anak itu mengaku tidak diterima di SMAN 4 Semarang. Padahal jarak rumahnya dengan sekolah itu tak sampai 1 km.

Dia juga mengaku telah mendaftar di tempat lain namun juga tidak keterima. Ganjar kemudian meminta anak tersebut datang ke posko untuk meminta kejelasan.

Namun, anak tersebut mengaku telah datang ke kantor Dinas Pendidikan tapi tidak bisa menemui kepala dinas. Dia bersama bapaknya hanya ditemui petugas posko bernama Jumeri.

Padahal Jumeri yang dimaksud anak itu adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Namun anak itu tak mengenalinya.

“Lho Pak Jumeri itu kepala dinas. Begitu saya konfirmasi ke Pak Jumeri, ternyata anak itu telah diterima di SMAN 4 Semarang,” katanya.

Dari sekian banyak wadulan yang masuk, yang paling membuat Ganjar terkesiap adalah ketika salah satu kawannya tiba-tiba mengirim pesan dan memaksakan anaknya masuk ke SMAN 3 Semarang. Merasa diintervensi, Ganjar pun marah.

“Lha kok kowe mekso aku. Kalau kamu temanku, mestinya kamu tahu bagaimana sistem ini saya kawal agar berjalan semestinya. Silakan daftarkan anakmu ke zonasi semestinya,” ujarnya.

Di berbagai kesempatan, Ganjar menekankan agar orangtua tidak perlu risau dengan penerapan sistem zonasi ini. Jika ternyata tidak bisa masuk ke sekolah negeri, masih ada sekolah swasta.

Sementara salah satu upaya mengakomodasi siswa berprestasi, Ganjar pun telah mengajukan ke Kementerian Pendidikan agar Jawa Tengah memberi kuota 35 persen dari kuota awal yang hanya 5 persen.

“Yang miskin akan kita kasih beasiswa, tapi jangan pura-pura miskin. Sekolah tidak hanya negeri, saya dulu juga pengin masuk SMA negeri tapi tidak bisa. Dan sekarang malah jadi gubernur,” pungkasnya.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.