MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Desa Tempur Jepara Dipasangi 3 Alat Deteksi Longsor

0 223

MURIANEWS.com, Jepara – Di Kabupaten Jepara, salah satu desa yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana adalah Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara. Desa ini sangat rawan terjadi bencana longsor, karena lokasinya yang berada di pegunungan.

Karena itu, untuk mengantisipasi munculnya bencana di Desa Tempur mulai dipasang alat Early Warning System (EWS) untuk peringatan dini masyarakatnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, sementara ini ada 3 alat EWS untuk mendeteksi longsor dan 1 alat EWS untuk mendeteksi curah hujan. Peralatan peringatan dini tersebut merupakan bantuan dari BPBD Jawa Tengah tahun 2019 ini.

BPBD Jepara sendiri sebenarnya mengajukan bantuan peralatan yang sama untuk beberapa desa yang memiliki potensi bencana alam.

Namun dari yang diajukan, BPBD Jawa Tengah akhirnya baru bisa memberikan bantuan 4 peralatan tersebut. Karena Desa Tempur merupakan yang paling berisiko, akhirnya diputuskan semua dipasang di desa ini.

“Ada beberapa desa yang kami sampaikan perlu mendapatkan peralatan peringatan dini. Di antaranya Kunir, Damarwulan, Bungu, Sumosari, Tempur dan beberapa desa lainnya. Namun dari BPBD Jateng baru menyampaikan peralatan yang sudah dipasang di Tempur itu,” jelas Arwin, Senin (8/7/2019).

Selama sepekan sejak Selasa (2/7/2019) pekan lalu, pemasangan peralatan ini sudah dilakukan oleh Tim BPBD Jepara dan Tim Tehnis dari UGM (Universitas Gadjah Mada).

Senin (8/7/2019) hari ini, rencananya peralatan ini sudah akan diujicoba dengan dilakukan kegiatan simulasi bersama masyarakat Desa Tempur.

Kabupaten Jepara menjadi salah satu dari 15 Kabupaten di Jawa Tengah yang mendapatkan paket bantuan alat deteksi dini bencana tanah longsor. Perlatan tersebut terdiri  dari tiga unit Ekstensometer (alat pengukur rekahan tanah) dan satu unit Rain Gauge (alat penakar curah hujan).

Desa Tempur dipilih menjadi titik lokasi pemasangan alat ini, karena memiliki beberapa kriteria yang patut dipertimbangan.

Secara geografis Desa Tempur dikelilingi bukit-bukit tinggi di lereng Muria dan memiliki risiko tinggi terhadap bencana tanah longsor. Banyaknya jumlah jiwa yang terancam, juga menjadi pertimbangan.

Ketua Tim Teknis dari UGM, Nathannael Kresna Yudha mengatakan, pemasangan peralatan ini dilakukan dalam beberapa tahap.

Diawali dengan melakukan risk assesment pada sembilan titik lokasi calon pemasangan alat yang sebelumnya telah diusulkan oleh Pemerintah Desa Tempur.  Hal ini dilakukan supaya fungsi alat sesuai dengan kondisi geologi daerah pemasangan.

Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan studi geologi dan sosiologi, sebelum akhirnya dilakukan pemasangan peralatan tersebut.

Berdasarkan kajian kerentanan, analisis risiko dan hasil koordinasi dengan pemerintah desa, akhirnya ditentukan tiga titik lokasi pemasangan alat ekstensometer. Yaitu di Dukuh Kemiren, Dukuh Petung dan Dukuh Karangrejo. Sementara Rain Gauge dipasang di depan kantor Petinggi Tempur.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.