Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Paling Favorit, Alasan SMA 1 Pati Diserbu Calon Siswa Ber-SKD Aspal

MURIANEWS.com, Pati – Munculnya fenomena surat keterangan domisili (SKD) asli tapi palsu (aspal) dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA 2019, patut mendapat perhatian serius. Sebab, hal itu sudah mengarah pada pelanggaran hukum.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jateng Sunoto meminta agar para orang tua dapat legawa dan tidak mencoba memanipulasi.

Pihaknya juga mengimbau agar kepala sekolah maupun panitia PPDB untuk memperketat pengawasan. Bahkan sesuai prosedur, seharusnya ada tim verifikator SKD.

“Tim itulah yang kami harapkan melakukan verifikasi hingga turun ke rumah-rumah para pendaftar tersebut,” katanya, Jumat (5/7/2019)

Untungnya, dari laporan yang didapatkan saat ini untuk peserta yang diduga menggunakan SKD aspal tersebut hanya terjadi di SMA N 1 Pati. Untuk di sekolah lainnya belum ada laporan terkait hal tersebut.

“Laporan sementara untuk di Pati hanya di SMAN 1 Pati saja. Dimungkinkan karena sekolah tersebut sejak dulu dianggap sebagai sekolah favorit,” terangnya.

Di sekolah ini ada 12 pendaftar yang ketahuan menggunakan SKD aspal. Semuanya langsung dicoret dari daftar PPDB di sekolah tersebut.

Oleh karena itulah dirinya turut mengimbau agar orang tua dan wali murid agar mendaftarkan anaknya dengan menggunakan dokumen kependudukan yang sah.

Selain itu, diharapkan anak-anak tidak dipaksakan di sekolah yang tidak sesuai dengan dokumennya. Terlebih hingga ada dugaan calon peserta didik yang memanipulasi dokumen.

Baca: Pakai Surat Domisili Aspal, 12 Pendaftar di SMAN 1 Pati Dicoret

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Pati Budi Santosa mengatakan, pada PPDB kali ini ada 40 peserta yang menggunakan SKD. Dari jumlah itu, 12 di antaranya ketahuan menggunakan SKD aspal sat proses verifikasi.

Menurutnya, SKD yang dibawa calon siswa itu tidak sesuai dengan alamat yang tertera di Kartu Keluarga (KK). Tetapi calon siswa tersebut bersikukuh untuk membuat SDK dengan alamat yang lebih dekat dengan SMAN 1 Pati.

“Yang lucu itu, ada calon siswa yang alamat KK di Tambakromo, sekolah SMPnya juga di Tambakromo, tetapi ketika mendaftar di SMAN 1 Pati, SKDnya di Desa Plangitan. Ini kan tidak sesuai,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ada juga calon siswa yang beralamat di Desa Tluwuk, Wedarijaksa. Siswa ini sekolah SMP di Juwana, tetapi membuat SKD di Desa Puri.

Desa Puri memang menjadi desa paling dekat dengan SMAN 1 Pati. Setelah ditelusuri, ternyata ibunya sering kulakan ayam di Pasar Puri, tetapi alamat KK berada di Desa Tluwuk.

“Peserta memnag tidak bisa sembarangan menggunakan SKD. Kami sudah memperketat prosesnya. Karena, sebelum SKD itu kami terima, pendaftar juga harus menyerahkan KK. Setelah itu kami lakukan verifikasi faktual,”  imbunya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...