Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kekeringan Meluas, 78 Desa di Grobogan Kekurangan Air Bersih

MURIANEWS.com, GroboganBencana kekeringan yang melanda wilayah Grobogan bertambah parah. Hal ini bisa dilihat dengan makin bertambahnya jumlah desa yang mengalami kekeringan.

Kepala BPBD Grobogan Endang Sulistyoningsih mengatakan, berdasarkan data terbaru, sudah ada 78 desa di 11 kecamatan yang mengalami kekeringan. Dari 11 kecamatan ini, ada 3 kecamatan yang kekeringannya dinilai paling parah. Yakni, Kecamatan Gabus, Kradenan, dan Kedungjati.

“Jumlah desa yang terdampak kekeringan terus bertambah. Pekan lalu, baru sekitar 60 desa. Saat ini, jumlahnya tambah jadi 78 desa,” katanya, usai melangsungkan rapat koordinasi panggulangan kekeringan dengan kalangan usaha dan instansi swasta di kantor BPBD Grobogan, Selasa (2/7/2019).

Endang menegaskan, terkait datangnya bencana kekeringan itu, pihaknya sudah mulai menyalurkan bantuan air bersih sejak Jumat (21/6/2019) lalu. Dalam penyaluran bantuan air bersih ini, pihaknya memiliki anggaran sekitar Rp 47 juta. Dana sebanyak ini hanya bisa digunakan untuk menyalurkan bantuan sekitar 236 tangki saja.

Kepala BPBD Grobogan Endang Sulistyoningsih memimpin rakor penanggulangan kekeringan dengan kalangan usaha dan instansi swasta di kantornya, Selasa (2/7/2019). (MURIANEWS.com/Dani Agus)

“Anggaran sebesar ini tentunya belum bisa mencukupi. Nantinya, kita akan mintakan penambahan anggaran melalui pos dana tak terduga,” katanya.

Selain menambah anggaran, upaya lain yang dilakukan adalah melibatkan berbagai pihak lainnya. Seperti PMI, Dinas Sosial, instansi swasta, BUMD, perbankan, Baznas dan perusahaan yang ada di Grobogan agar ikut membantu menangani bencana kekeringan.

“Hari ini tadi, kita undang berbagai pihak untuk membahas penanggulangan kekeringan. Dalam rapat tadi, mereka siap memberikan dukungannya untuk membantu menyalurkan bantuan air bersih,” cetusnya.

Menurutnya, dari perkiraan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, kekeringan tahun ini sudah dimulai sejak Mei lalu. Kekeringan terjadi dengan menurunnya curah hujan di Kabupaten Grobogan. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September nanti.

Endang menambahkan, bencana kekeringan hampir terjadi tiap tahun. Pada tahun 2018 lalu, ada 92 desa di 15 kecamatan yang mengalami bencana kekeringan.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...