Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Dinas Pertanian dan Pangan Kudus Siapkan Dua Program Lindungi Petani di Musim Kemarau

MURIANEWS.com, Kudus – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus telah menyiapkan dua program untuk melindungi petani saat musim kemarau. Kedua program itu adalah memasukkan petani ke Asuransi Usaha Tanam Padi ( AUTP) dan peminjaman pompa bagi wilayah yang masih terdapat sumber air.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus Catur Sulistiyanto mengatakan diperkirakan musim kemarau sudah mulai terasa di Kabupaten Kudus. Sementara, berdasarkan prediksi BMKG, kemarau tahun ini akan lebih panjang dan mencapai puncaknya pada bulan Juli-Agustus.

“Nah untuk mengantisipasi hal tersebut, kami telah melakukan langkah-langkah untuk melindungi petani dari kerugian,” katanya, Selasa (2/7/2019).

Ia mengatakan, untuk daerah-daerah yang masih terdapat sumber air baik sumur resapan maupun sungai dan embung akan diberikan pinjaman pompa air. Selain itu, guna melindungi petani dari kerugian lebih besar, maka para petani diarahkan mengikuti AUTP.

“Sebagai antisipasi saja, apabila debit air di sungai turun maka bisa puso karena kekeringan. Namun nanti petani bisa terlindungi dari AUTP,” ungkapnya.

Petani di Kecamatan Mejobo melakukan tanam padi, Sabtu (7/4/2018). (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

Dengan begitu, di masa tanam berikutnya, petani memiliki modal untuk menanam kembali. Sementara, untuk AUTP sendiri saat ini ada dua jenis, yakni bagi petani dengan lahan di bawah dua hektare bisa mendapatkan subsidi full dari Provinsi. Sedangkan petani yang memilliki lahan lebih dari itu maka mengikuti subsisdi dari pemerintah.

Catur menyebutkan, berdasarkan data dari masing-masing BPP ( Balai Penyuluh Pertanian) di sembilan kecamatan, saat ini kekeringan masih menjadi ancaman. Ini lantaran beberapa sungai yang masih terdapat air diprioritaskan untuk mengaliri sawah yang baru menanam padi.

“Namun, secara umum para petani sudah melakukan panen dan sebagian di antaranya menunggu hari panen,” ujarnya.

Seperti di Kecamatan Kaliwungu, Bae, Dawe, Gebog, Jati, dan Kota, saat ini kondisi lahan pertanian tanaman padi aman dari ancaman kekeringan karena sudah panen. Memasuki MT III mereka menanam palawija dan daerah yang memiliki sumur resapan seperti kecamatan Kaliwungu masih tetap menanam padi.

Wilayah Kecamatan Undaan, hanya empat desa di wilayah utara yakni Desa Wates, Undaan Lor, Ngemplak, dan Larikrejo. Tanaman padi disini sudah berumur 60-90 hari. Untuk memenuhi kebutuhan airnya diambilkan dari embung ngemplak.

“Mundurnya masa panen ini karena awal MT I mengalami penyesuaian dengan mengalirnya irigasi dari waduk kedungombo ,” terangnya.

Wilayah lain yang statusnya ancaman rawan kekeringan yakni kecamatan Mejobo wilayah desa Payaman, Kirig, Temulus dan Gulang. Namun yang paling terancam yakni 7 hektare di sebelah selatan jalan lingkar seberang SPBU dan Temulus 75 hektare. Umur tanaman padi saat ini 70 hari. Sehingga membutuhkan pompa untuk menyedot air sungai ke sawah.

“Hampir sama dengan Mejobo bagian selatan, wilayah Kecamatan Jekulo wilayah selatan juga tanaman padinya bergantung pada alira sungai jeratun. Yaitu Desa Gondoharum dan Bulungcangkring,” terangnya.

Sementara itu untuk di Gondoharum 98 hektare tanaman padinya berumur 7-10 hari (poktan sumber makmur) dan poktan Sidodai dusun Tompe 68 hektare sudah proses tanam.

 

Reporter: Dian Utoro Aji
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...