Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Krisis Air di Jepara Tahun Ini Diprediksi Meluas, BPBD Hanya Diberi Dana Rp 22 Juta

0 60

MURIANEWS.com, Jepara – Wilayah Kabupaten Jepara berdasarkan informasi dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mulai memasuki musim kemarau sejak Mei lalu dan puncaknya pada Agustus-September. Tahun ini kemarau diperkirakan memberi dampak pada puluhan ribu jiwa di Kota Ukir ini.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Arwin Nor Isdiyanto menyatakan, sudah menyiapkan rencana antisipasi. Menurutnya, kemarau dipastikan akan berdampak di semua wilayah di Jepara.

Puncak kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus untuk sebagian wilayah di Jepara, masing-masing Jepara wilayah Barat, Utara dan Selatan. Sementara untuk wilayah Jepara Timur, puncak kemarau akan berlangsung pada sekitaran September.

“Saat ini, di  Jepara sudah sekitar 20 hari tidak mengalami hujan. Meski demikian sampai Juni ini, belum ada keluhan atau laporan mengenai masalah krisis air bersih,” katanya, Selasa (18/1/2019).

Dari pemetaan wilayah yang dilakukan oleh BPBD Jepara, diperkirakan akan ada 37 desa di 16 kecamatan yang rawan akan mengalami krisis air bersih. Sebagian besar desa-desa tersebut berada di wilayah Kecamatan Kedung, dan Kecamantan Keling.

Di Kecamatan Kedung setidaknya ada 6 desa yang diperkirakan akan mengalami masalah air bersih. Desa-desa tersebut adalah Surodadi, Kalianyar, Kedung Malang, Karangaji, Panggung dan Tedunan. Secara keseluruhan di seluruh desa ini ada 2.209 jiwa.

Sedangkan di Kecamatan Keling ada sedikitnya 5 desa yang diprediksi akan menghadapi masalah yang sama. Desa-desa tersebut adalah Desa Kunir, Desa Gelang, Desa Jlegong, Desa Tunahan dan Desa Klepu. Di 5 desa ini ada sekitar 1.396 orang warga.

“Jumlah desa terdampak kemarau dan mengalami masalah air bersih, berdasarkan evaluasi tahun 2018, diprediksi akan bertambah. Tahun 2018 lalu hanya 9 kecamatan dan 16 desa dengan jumlah warga sebanyak 10.541 jiwa, mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau,” ujarnya.

BPBD Jepara sendiri pada tahun 2018 menyalurkan 2.132.000 liter air bersih ke sejumlah desa. Sebagian besar air bersih tersebut merupakan bantuan dari sejumlah perusahaan swasta. Sebanyak 10 personel droping air, dua unit truk tangki, 43 set tandon ukuran 100 liter dan 10 set tandon ukuran 2000 liter, dikerahkan untuk misi bantuan ini.

Sedangkan pada 2019 ini, BPBD Jepara hanya mendapatkan anggaran Rp 22 Juta dari APBD Jepara. Seperti biasanya, pihaknya harus bisa mendapatkan bantuan melalui program CSR beberapa perusahaan besar di Jepara.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

HUT ke-293 Grobogan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.