MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sistem Zonasi PPDB Diprotes, Jateng Usulkan Siswa Berprestasi Bebas Pilih Sekolah

0 579

MURIANEWS.com, Semarang – Gubernur Jawa Tengah mengusulkan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan evaluasi terkait pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2019. Evaluasi itu khususnya terkait persoalan zonasi.

Pasalnya, banyak protes dari masyarakat mengenai sistem ini, yang dianggap menyulitkan siswa memilih sekolah. Selain masalah zonasi, orang tua siswa juga protes mengenai kuota untuk siswa berprestasi di tiap sekolah yang sangat sedikit, hanya 5 persen.

Dalam PPDB online 2019 ini memang berbeda dengan PPDB online 2018. Perbedaan mencolok terjadi pad penerimaan SD, SMP dan SMA karena menerapkan mekanisme zonasi. Sementara, PPDB SMK tidak menggunakan mekanisme zonasi, karena penerimaan masih berdasarkan nilai ujian.

Ganjar Pranowo menyatakan, semalam pihaknya langsung menggelar rapat dengan dinas terkait. Saat itu pula, ia menyebut langsung menelepon Menteri Pendidikan untuk mengubah mekanisme PPDB tersebut.

“Setiap hari saya ditanya masyarakat terkait PPDB online ini. Mereka bertanya soal zonasi dan kuota siswa berprestasi. Maka semalam saya langsung telepon Pak Menteri,” katanya, Kamis (13/6/2019).

Ganjar menyebut, Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 51 Tahun 2018 yang mengatur PPDB ini, memang menimbulkan polemik di masyarakat. Karena dengan sistem zonasi, siswa dalam zona yang sama diberi kuota sampai 90 persen, sementara siswa berprestasi hanya diberi jatah kuota 5 persen.

”Maka banyak siswa cerdas yang telah menyiapkan diri untuk masuk sekolah yang diinginkan, terkendala aturan itu,” ujarnya.

Dari sinilah menurut Ganjar, Jawa Tengah mengusulkan agar sistem PPDB dilakukan perubahan. Salah satu usulnya yakni, siswa berprestasi diberi keleluasaan memilih sekolah.

“Ini sebagai penghargaan bagi mereka yang berprestasi. Kalau kuota jalur prestasi hanya 5 persen, menurut saya itu terlalu sedikit. Kalau bisa dinaikkan lah, saya usul diubah menjadi 20 persen,” ujarnya.

Dengan kuota sebanyak ini menurut dia, banyak siswa berprestasi bisa mendapatkan pilihan sekolah melampaui zonasi yang sudah ditetapkan.

Masalah lain yang dikritisi Ganjar yakni aturan bahwa yang tercepat mendaftar akan mendapatkan prioritas. Menurutnya, aturan itu tidak fair dan akan mempersulit masyarakat.

Apalagi di sejumlah sekolah yang dianggap favorit, kalau menggunakan sistem ini, dalam hitungan menit sejak pendaftaran dibuka maka kuota akan langsung penuh.

Ganjar juga menyoroti adanya beberapa daerah yang berbeda dalam penerapan mekanisme PPDB online. Di beberapa daerah lanjut dia, mekanisme zonasi dalam PPDB 2019 lebih melunak dan tidak sesuai dengan ketetapan Permen 51 Tahun 2018.

“Maka tadi malam saya usul ke Pak Menteri, daripada berbeda-beda seluruh Indonesia, bagaimana kalau digelar evaluasi dan Rakor bersama untuk menyamakan persepsi. Alhamdulillah direspon cepat oleh pak Menteri, hari ini jam 14.00 WIB Kementerian menggelar Rakor soal ini,” terangnya.

Ganjar berharap, sebelum PPDB online SMA dibuka 1 Juli mendatang persoalan ini sudah selesai, sehingga tidak muncul gejolak.  Pihaknya juga memastikan akan segera mengubah peraturan gubernur (Pergub) tentang PPDB, jika usulan tersebut direalisasikan oleh Menteri Pendidikan.

“Itu (pergub) bisa cepat. Saya juga sebenarnya sudah menyiapkan plan B jika usulan ini diterima, yakni hanya dengan menambahkan pasal khusus dalam Pergub. Itu sudah kami siapkan,” terangnya. (lhr)

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

HUT ke-293 Grobogan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.