MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Lebaran Kecil Bernama Kupat Lepet, Tradisi Masa Lalu yang Masih Hidup di Jepara

0 352

MURIANEWS.com, Jepara- Libur Idul Fitri bagi masyarakat di pesisir utara Jawa Tengah, biasa dilangsungkan selama sepekan penuh. Termasuk di wilayah Kabupaten Jepara, libur Idul Fitri adalah sesuatu yang istimewa.

Di Kabupaten Jepara, penghormatan untuk masa Lebaran Idul Fitri bahkan sangat luar biasa. Aktivitas kerja sebagian perusahaan terutama yang swasta, selalu dimulai setelah sepekan usai Idul Fitri. Selama sepekan penuh, masyarakat berkesempatan menikmati liburan ini.

Salah satu tradisi yang masih ada di masyarakat Jepara pada puncak Syawalan (sepekan setelah Idul Fitri) adalah Kupat Lepet. Tradisi ini bisa juga disebut sebagai Badha Cilik (Lebaran Kecil), yang selalu ditradisikan pada sepekan setelah Idul Fitri.

Tradisi ini berbarengan juga dengan tradisi Pesta Lomban. Biasanya setelah melaksanakan Kupat Lepet, masyarakat kemudian plesiran menikmati suasana Pesta Lomban.

Pada Selasa (12/6/2019), pagi hari sekitaran 06.00 WIB, di sejumlah desa, tradisi Kupat Lepet juga berlangsung. Di beberapa tempat, warga berbondong bondong membawa ketupat dan lepet dengan lauk opor ayam dan telur. Mereka membawanya ke masjid atau musala, untuk kemudian berdoa bersama-sama.

Mengiringi tradisi ini adalah, tradisi ‘weweh’ atau saling memberi ketupat dan lepet beserta lauknya kepada para tetangga. Biasanya setelah semua dibawa ke masjid dan musala, warga yang berkumpul kemudian menikmati bersama hidangan khas Lebaran Idul Fitri ini.

“Semua dilakukan dalam kerangka tasyakuran. Rangkaian puasa Ramadan menghasilkan  Badha Idul Fitri, atau Lebaran. Sedangkan sepekan setelahnya menghasilkan Badha cilik atau Badha Kupat Lepet. Budaya ‘weweh’ kupat lepet berikut opornya  ke tetangga menyertai untuk menjalin silaturrahim yang sangat mendalam,” ujar Hisyam Zamroni, Budayawan Jepara.

Warga berkumpul di mushala, untuk berdoa dan bersantap ketupat dalam tradisi kupat lepet di Jepara. (MURIANEWS.com/istimewa)

Hisyam menjelaskan, Badha Kupat Lepet erat kaitannya dengan hadits tentang ‘puasa enam hari’ hari setelah Idul Fitri. Momentum ini merupakan wujud syukur setelah ‘puasa enam hari’ dilaksanakan.

Meski tidak semua orang melaksanakan puasa sunah ini, namun momentumnya tetap dirayakan oleh masyarakat secara luas, untuk menghormati yang berpuasa.

Di Jepara, tradisi ini diekspresikan dengan rasa  senang, riang gembira, bahagia dan penuh syukur. Biasanya dilakukan dengan keluarga, berkumpul bersama setelah mengikuti selamatan di masjid atau musalla pada pagi-pagi.

“Biasanya setelah Kupat Lepet, masyarakat bersama keluarga handai taulan kemudian berpesiar sama-sama. Di antaranya menikmati tradisi Lomban yang ada di Jepara,” terangnya.

Tradisi Pesta Lomban sendiri menurut Hisyam Zamroni merupakan ekspresi rasa syukur secara  komunal, karena telah melaksanakan dengan tuntas Lebaran dan Kupat Lepet. Tradisi ini merupakan luapan syukur dan kegembiraan secara komunal dengan cara menyembelih kerbau.

Sementara itu, KH Mashudi, Ketua MUI Jepara, menyebut puasa enam hari di bulan Syawal, setelah Idul Fitri adalah sunah muakad. Ibadah ini jika dilaksanakan, maka pahala yang diberikan Allah setara dengan puasa selama 360 hari.

Baca: Berebut Berkah dan Rezeki di Arena Pesta Lomban Jepara

Pelaksanaanya bisa diawal bulan Syawal yakni tanggal 2 sampai 7, atau di tengah-tengah bulan syawal. Namun dari berbagai literatur, disebutkan lebih baik dilaksanakan di awal bulan Syawal. Di negara Asia Tenggara tradisi muslim ini masih ada.

“Di masyarakat Jawa, ada sebuah tradisi untuk memperingati momentum ini. Kalau di Jepara biasanya dengan tradisi Kupat Lepet-nya. Makanya sepekan setelah Idul Fitri ada yang namanya Syawalan. Itu untuk menghormati yang menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal,” terangnya.

Sedangkan untuk Pesta Lomban, KH Mashudi menyebut tradisi tersebut tidak secara langsung berhubungan dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Meskipun demikian, tradisi tersebut juga tetap merupakan bagian dari wujud syukur masyarakat.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

HUT ke-293 Grobogan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.