MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Berkaitan dengan Sunan Muria, Begini Awal Mula Tradisi Bulusan di Kudus

0 1.882

MURIANEWS.com, Kudus – Warga Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo menggelar tradisi kupatan bulusan setiap tahun. Tradisi tersebut digelar setiap tanggal 8 Syawal.

Tradisi yang juga sebagai bentuk menghormati leluhur atau haul kepada Mbah Dudo itu dimeriahkan dengan berbagai macam kegiatan. Mulai dari perlombaan hingga puncaknya ada kirab kupatan bulusan.

Namun siapa sangka, ada kisah sejarah tersendiri bagi tradisi bulusan. Kata bulusan merupakan kata bulus yang berarti kura-kura. Lantas bagaimana awal mula tradisi bulusan itu?

Tokoh Masyarakat Subekhan mengatakan, ada kisah atau sejarah dari leluhur awal mula tradisi bulusan. Menurutnya, tradisi bulusan sudah ada sejak zaman wali yang dilestarikan hingga sekarang.

“Ini peninggalan yang harus dilestarikan,” katanya, Selasa (11/6/2019).

Ia mengatakan, tradisi bulusan berkaitan dengan Sunan Muria saat melakukan siar agama Islam.  Dikisahkan, Sunan Muria pernah menegur warga setempat yang masih bekerja pada malam hari saat bulan suci ramadan.

“Perjalanan malam hari saat Nuzulul Quran, Sunan Muria melihat ada dua orang yang sedang bekerja di sawah. Dua orang itu merupakan murid dari Kiai Mbah Dudo, yang merupakan sahabat dari Sunan Muria,” terangnya.

Kompleks makam Mbah Dudo lokasi festival budaya kupatan turut Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo, Senin (10/6/2019). (MURIANEWS.com/Dian Utoro Aji).

Selanjutnya, Sunan Muria terkejut melihat dua orang yang diketahui bernama Umara dan Umari bekerja saat malam hari di bulan ramadan. Saat diajak untuk ke masjid, baik Umara dan Umari berkilah menunggu pekerjaannya selesai. Lantas, Sunan Muria nyeletuk ”orang kok kayak bulus”.

“Seketika itu keduanya menjadi bulus. Ucapan Sunan Muria seketika itu menjadi kenyataan,” ungkapnya.

Akibat dari kejadian itu, kemudian Mbah Dudo meminta maaf atas kesalahan kedua santirnya tersebut. Hanya, kedua santrinya itu tidak mungkin dapat kembali. Sehingga akhinyra Sunan Muria menancapkan tongkat ke tanah. Lalu, muncul mata air atau sumber sehingga diberikan nama dukuh Sumber. Kini Dukuh Sumber merupakan salah satu dukuh di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo.

“Kemudian supaya anak cucu menghormati satu minggu setelah hari raya bulan Syawal tepatnya bada kupat muncullah tradisi bulusan,” jelasnya.

Sampai sekarang setiap kupatan (sepekan setelah Lebaran) tempat ini ramai dikunjungi orang untuk berziarah dan juga melihat bulus. Tradisi hingga sekarang ini masih ada dan terkenal dengan nama Bulusan.

Sementara itu, Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan mengatakan, serangkaian acara tradisi Bulusan tahun 2019 resmi dibuka hari ini. Tradisi haul Mbah Dudo itu dijadwalkan digelar selama dua hari. Dengan dimeriahkan berbagai macam kegiatan hingga hiburan.

“Hari ini dimulai dengan pembukaan. Kemudian hari ini nanti ada berbagai macam kegiatan, dari perlombaan hingga malam tirakat haul Mbah Dudo,” katanya.

Ia mengatakan, adapun untuk puncak tradisi bulusan akan digelar pada Rabu (12/6/2019) besok. Direncanakan pada hari kedua besok akan ada kirab budaya kupatan. Bahkan, dijadwalkan Bupati dan Wakil Bupati Kudus akan hadir langsung.

“Tradisi ini sudah ada sejak zaman wali hingga sekarang. Kalau di Kudus Kulon ada Dandangan, di sini (Kudus Wetan) ada Bulusan. Ini menandani berakhirnya bulan puasa dan awal bulan Syawal,” tandasnya.

 

Reporter: Dian Utoro Aji
Editor: Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.