MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kotekan, Tradisi Membangunkan Sahur yang Masih Bertahan di Grobogan

0 124

MURIANEWS.com, GroboganSepanjang Ramadan, suasana di sejumlah perkampungan di kota Purwodadi terdengar semarak menjelang waktu sahur. Hal itu seiring banyaknya kegiatan yang dilakukan sejumlah orang untuk membangunkan warga agar tidak terlambat sahur.

Di daerah Grobogan, aktivitas membangunkan orang untuk sahur ini lazim disebut kotekan. Di daerah lainnya ada yang menamakan patrol atau tongtek.

Biasanya, pelaku kotekan ini membentuk sebuah tim dengan anggota sebanyak 5 sampai 15 orang. Kebanyakan anggota tim ini adalah anak-anak dan remaja. Mereka yang sudah menginjak dewasa biasanya sudah menyerahkan tongkat estafet kotekan pada adik-adiknya.

Hampir di semua perkampungan khususnya, di kawasan kota, setiap malam masih terdengar suara kotekan untuk membangunkan orang kampung itu agar segera mempersiapkan sahur.

Rombongan kotekan anak-anak di Kampung Jetis, Purwodadi sedang keliling kampung untuk membangunkan warga supaya segera bersahur. (MURIANEWS.com/Dani Agus)

Misalnya, di Kampung Jengglong Barat, Jetis, Kuripan, dan Jagalan. Aktivitas kotekan ini biasanya dimulai pukul 01.30 sampai pukul 03.00 WIB.

Untuk kegiatan kotekan itu, tidak ada peralatan khusus yang disiapkan. Bergam ‘alat musik’ yang dibawa anak-anak muda itu berasal dari barang-barang keperluan dapur. Misalnya, sendok, piring, panci dan botol kaca.

Ada pula yang membawa kentongan dari bambu untuk menambah variasi suara. Selain itu, ada pula yang membawa ember atau galon air isi ulang. Jika ditabuh, suara yang keluar terdengar cukup lantang seperti suara drum.

Kehadiran tim kotekan itu dirasa cukup membantu warga sekitar. Masalahnya, mereka tidak khawatir terlambat bangun untuk bersahur. Meski begitu, ada pula yang merasa sedikit terganggu dengan kehadiran tim kotekan itu. Soalnya, mereka terkadang kaget dengan suara musik yang dipukul terlalu keras.

”Kadang-kadang, mereka itu suka bikin kaget. Soalnya, mereka ini mukul alat musiknya keras banget. Meski begitu, adanya orang kotekan itu memang cukup membantu,” ujar Eko Suryanto, warga Kampung Jetis.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Supriyadi

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.