Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Guru di Desa Terpencil Karimunjawa Kini Tak Lagi Diberi Tunjangan

MURIANEWS.com, Jepara – Sejumlah guru di Desa Nyamuk dan Parang, Kepulauan Karimunjawa, Jepara, terkena imbas dari penetapan Indek Desa Membangun (IDM). Sesuai dengan IDM yang ditetapkan Kementrian Desa (Kemendes), dua desa ini dianggap bukan lagi desa tertinggal.

Imbas dari kebijakan ini, akhirnya tunjangan khusus yang biasa didapatkan para guru di dua desa ini akhirnya dihilangkan. Situasi ini dikeluhkan sejumlah guru yang bertugas di kawasan barat Kepulauan Karimunjawa tersebut.

Ahmad Rifai, salah seorang guru yang bertugas di Desa Parang, menyatakan pihaknya berharap ada perubahan kebijakan mengenai hal ini. Tunjangan khusus yang diberikan sebesar 1 kali gaji setiap bulannya itu, merupakan harapan besar untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing guru.

Di Parang dan Nyamuk, saat ini ada 23 guru yang dipastikan terimplikasi atas kebijakan ini. Penetapan Desa Nyamuk dan Parang sebagai desa yang tidak tertinggal menurutnya perlu dikaji ulang. Pihaknya bahkan diberitahu oleh Disdikpora Jepara, untuk status desa tertinggal saat ini malah diberlakukan untuk Desa Gemulung, Pecangaan dan Ketileng Singolelo, Welahan.

“Kami tentu berharap, perjuangan kami 23 guru di Parang dan Nyamuk yang benar-benar terpencil ini tetap dibantu. Kami ingin tetap mendapatkan tunjagan khusus seperti yang selama ini diberikan,” ujar Ahmad Rifa’I.

Ahmad Rifai, bersama dua rekannya masing-masing Ahmad Labib dan Muslikhan, Kamis (2/0l5/2019), datang ke Jepara tepat pada Hari Pendidikan Nasional. Mereka kemudian menemui awak media di Jepara, menyampaikan keluh kesah mereka.

Menurut Ahmad Labib, biaya hidup di Pulau Nyamuk tempatnya berdinas lebih mahal dibandingkan di kota Kecamatan Karimunjawa, atau bahkan Jepara daratan. Selama ini tunjangan khusus yang didapatkan merupakan harapan besar bagi pemenuhan kebutuhan keluargannya.

Untuk kebutuhan makan seorang diri di Pulau Nyamuk, Labib mengaku paling sedikit menghabiskan uang Rp 1 Juta setiap bulannya. Itu belum kebutuhan lain seperti sabun, listrik dan gas elpiji.

Lalu untuk biaya transportasi pulang menemui keluarga sebulan sekali, paling tidak butuh Rp 500 ribu sekali jalan. Praktis dengan gajinya yang hanya Rp 2,5 juta sebulan, tidak banyak yang bisa disisakan untuk keluarganya di rumah.

“Saya asli Sinanggul, Mlonggo dengan status ASN golongan III, gaji saya Rp 2,5 Juta/bulan. Sudah 13 tahun saya di Nyamuk. Kalau tunjangan khusus tidak lagi saya terima, lalu bagaimana nasib keluarga saya. Ini juga berlaku untuk teman-teman lainnya yang bertugas di sana,” terang Ahmad Labib, dalam kesempatan yang sama.

Sedangkan Muslihan, salah guru di Desa Parang, menilai kebijakan yang menempatkan Desa Gemulung dan Ketileng Singo Lelo yang berada di Jepara daratan, sebagai desa sangat tertinggal, diharapkan bisa ditinjau ulang. Bagaimanapun, dibandingkan Parang dan Nyamuk, dua desa tersebut relatif lebih maju.

“Kami sebenarnya tidak paham bagaimana proses penetapanya. Namun yang membuat kami merasa berat adalah, kebijakan penetapan desa sangat tertinggal itu akhirnya membuat tunjangan khusus kami hilang dan dipindahkan kesana. Mohonlah ini bisa menjadi perhatian,” ujar Muslikhan.

Tunjangan khusus untuk guru di Parang dan Nyamuk, biasanya diberikan setiap tiga bulan sekali. Tahun ini, sampai bulan April mereka tidak kunjung mendapatkannya, hingga akhirnya mereka menanyakannya.

Secara struktural melalui UPT Disdikpora Karimunjawa, hal ini sudah disampaikan. Sampai akhirnya mereka juga mencari tahu ke Disdikpora Jepara.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...