Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Tersebar Kabar Akan Dibangun Hotel di Pantai Praweyan Bandengan, Warga Protes

MURIANEWS.com, Jepara – Warga Desa Bandengan, Jepara yang tergabung dalam Paguyuban Pelestari Alam Pantai Bandengan (PPAPB) mempertanyakan kegiatan pembangunan yang terjadi di sekitar desanya. Pasalnya, tersiar kabar jika akan kembali dibangun hotel di kawasan Pantai Praweyan, Bandengan.

Padahal saat ini kawasan pantai di Desa Bandengan telah dikepung hotel. Oleh karenanya, warga menggelar protes. Bahkan Jumat pekan lalu mereka menggelar aksi mendatangai kantor balai desa.

Ketua PPAPB Bandengan, Purbo menyatakan, proses pembangunan di seputaran Pantai Bandengan sama sekali tidak melibatkan masyarakat setempat. Saat ini, kawasan Pantai Bandengan bahkan sudah dikepung oleh berbagai bangunan hotel.

Terakhir untuk kasus di Pantai Praweyan, masyarakat Bandengen mempertanyakan prosesnya. Kawasan-kawasan sepadan pantai di Bandengan saat ini sudah dibangun berbagai fasilitas, yang pada akhirnya mememinggirkan kepentingan masyarakat khususnya nelayan.

Setelah dibangun hotel-hotel di kawasan Pantai Tirto Samudro, kini ada isu rencana dibangun hotel di Pantai Paraweyan.

Lokasi ini padahal sudah puluhan tahun menjadi salah satu tempat beraktivitas nelayan. Jika dibangun, dan kepentingan nelayan tidak dipertimbangkan, mereka khawatir maka nasib nelayan menjadi semakin terpinggirkan.

“Kami mendengar di kawasan itu akan di bangun hotel. Karena itu pada Jumat pekan lalu kami mendatangi balai desa. Tapi Pak Petinggi malah membatalkan pertemuan itu. Kami butuh berbicara dalam masalah ini,” ujar Purbo, Selasa (30/4/2019).

Warga dijanjikan akan dipertemukan dengan camat Jepara, terkait persoalan ini. Jumat (3/5/2019), warga diajak bicara di Balai Kecamatan Jepara.

Purbo menyatakan, kawasan pesisir pantai mulai Pantai Paraweyan hingga sisi barat Pantai Tirto Samudera, saat ini sudah dikapling-kapling. Pihaknya juga tidak memahami, kenapa kawasan sepadan pantai bisa diklaim sebagai hak milik perseorangan.

Sedangkan Didid ES, salah seorang pendamping warga menyatakan, pembangunan di kawasan Pantai Praweyan jelas perlu dipertanyakan.

Menurut dia, letaknya yang merupakan sepadan pantai, secara aturan tidak diperbolehkan dibangun. Dari sisi lingkungan,  hukum, sosial dan budaya, ada banyak persoalan yang patut dipertanyakan.

“Kawasan tersebut saat ini sudah dikepung oleh hotel-hotel milik perseorangan. Akses bagi nelayan semakin habis.  Para nelayan sama sekali tidak mendapatkan manfaat dan malah mendapatkan kesulitan karena akses merka semakin terbatasi,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Perizinan di Dinas Penanaman Modal, Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jepara, M Subhan menyatakan, pihaknya belum melayani izin apapun untuk kepentingan di pantai yang dimaksud.

Perizinan yang sudah diajukan untuk kepentingan yang ada di dekat kawasan itu adalah pembangunan perumahan untuk PLTU Tanjung Jati B.

Ia juga menyatakan, untuk kawasan Pantai Praweyan memang ada pengurukan untuk menutup dampak abrasi laut yang dilakukan oleh pemilik lahan.

Tanah yang digunakan adalah kerukan dari proyek pembangunan perumahan PLTU yang ada. Warga kemungkinan khawatir pemilik lahan akan membangun di kawasan itu.

“Kalau yang dimaksud adalah benar hal ini, maka itulah penjelasan yang bisa kami sampaikan. Informasi yang kami terima, akan ada musyawarah menindaklanjuti masalah ini di Kecamatan dalam waktu dekat ini,” terangnya.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...