Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Di Jepara Banyak Istri yang Minta Cerai, Ternyata Ini Penyebabnya

MURIANEWS.com, Jepara – Wanita Jepara barangkali memang termasuk kelompok pemberani untuk urusan perceraian. Separuh lebih kasus-kasus perceraian yang terjadi di Jepara dan tercatat di PA (Pengadilan Agama) Jepara, menunjukan kecenderungan itu.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Jepara, Rosidi membenarkan hal ini. Sesuai data yang ada di PA Jepara, dalam banyak kasus perceraian yang terjadi di Jepara, perempuanlah yang mengajukan perceraian. Kenyataan ini memang termasuk luar biasa.

Ada banyak alasan perceraian diajukan oleh pasangan suami istri di PA Jepara. Namun sebagian besar berkisar pada dua hal yang paling banyak.

Dua alasan tersebut adalah merasa dizalimi, baik dalam bentuk fisik ataupun nonfisik, lahir dan batin. Lalu alasan yang ke dua adalah karena masalah ekonomi.

“Paling banyak memang karena alasan ekonomi. Si istri merasa tak mendapatkan pemenuhan ekonomi oleh suaminya,” kata Rosidi, Selaa (2/4/2019).

Selain itu, menurut dia, ada fakta yang cukup menarik mengenai penyebab seorang istri di Jepara mengajukan gugat cerai. Yakni karena ada si istri yang merasa ekonominya lebih tinggi dibanding suaminya.

Data di PA Agama Jepara, pada bulan Januari 2019 sudah mencatat 158 kasus perkara cerai yang sudah diputus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37 kasus merupakan kasus talak atau cerai yang dimohonkan oleh pihak suami. Sedangkan 121 kasus lainnya merupakan gugatan cerai dari pihak istri.

Sementara pada bulan Februari 2019, kasus cerai yang tercatat di PA Jepara jumlahnya mencapai 167 gugatan. Rinciannya, yang diajukan oleh pihak istri mencapai 142 kasus. Sementara perceraian yang diajukan oleh pihak suami ada 25 kasus.

“Artinya, dari semua kasus perceraian yang ada di Jepara sebagian besar memang merupakan permohonan dari pihak wanitanya. Kenyataannya seperti itu,” terangnya.

Fenomena yang sama juga sudah terjadi sejak tahun 2017 lalu. Pada tahun 2017, dari 2.302 kasus perceraian, sebanyak 1.585 kasus merupakan gugatan cerai dari wanita kepada suaminya.

Sedangkan 500 kasus merupakan talak cerai yang diajukan pihak suami. Di luar itu ada 10 kasus permohonan poligami, harta bersama 11 kasus, dan kasus warisan 6 kasus.

Di tahun 2018 juga terjadi hal yang sama. Dari 2.348 kasus, sebanyak 1.635 kasus merupakan gugatan cerai dari istri. Sedangkan 497 kasus merupakan talak yang diberikan oleh suami. Sementara kasus poligami ada 9 kasus, harta bersama 7 kasus, dan pengangkatan anak 3 kasus.

 

Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...